Elka Asmartuti, A.Md.,TW.,S.Pd.,

Wujudkan Sekolah "Berbintang", Mengubah Tantangan Jadi Peluang

Wujudkan Sekolah "Berbintang", Mengubah Tantangan Jadi Peluang ist Kepala SLB Negeri 2 Indramayu, Elka Asmartuti, A.Md.,TW.,S.Pd.,

Proses pendidikan, sebut Elka, merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input. Sedangkan hasil dari proses disebut output. Proses yang dimaksud adalah pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar-mengajar, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan proses-proses lainnya.

DALAM konteks pendidikan mutu lulusan sangat terkait dengan mutu input, proses, dan output. Sehingga ketiganya tidak dapat dipisahkan, dan saling berkaitan satu sama lainnya. Bahkan, kata kunci keberhasilan tujuan pendidikan yang paling efektif adalah untuk meningkatkan mutu lulusannya yang mampu berpikir kritis, mampu berbuat di dalam kehidupan atau pun dunia kerjanya.

Lalu bagaimana model pembelajaran yang diterapkan di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Indramayu dalam peningkatan mutu lulusannya? Menurut Kepala SLB Negeri 2 Indramayu, Elka Asmartuti, A.Md.,TW.,S.Pd., mutu lulusan sangat terkait dengan mutu input, proses, dan output. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.

Input pendidikan, kata Elka, adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumber daya dan perangkat lunak, serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses, di antaranya meliputi ; (1) siswa, berupa kesiapan dan motivasi belajarnya; (2) guru, berupa kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan personal), dan kerjasamanya (kemampuan sosial); (3) kurikulum, berupa relevansi konten dan operasionalisasi proses pembelajarannya; (4) sarana dan prasarana berupa kecukupan dan keefektifan dalam mendukung proses pembelajaran; dan (5) masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan tinggi), berupa partisipasinya dalam mengembangkan program-program pendidikan sekolah.

Proses pendidikan, sebut Elka, merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input. Sedangkan hasil dari proses disebut output. Proses yang dimaksud adalah pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar-mengajar, proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan proses-proses lainnya.

Manajemen peningkatan mutu lulusan, jelas Elka, adalah sebuah proses yang melibatkan semua bagian dalam lembaga pendidikan. Semua bagian tersebut saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dengan bagian tersebut, yaitu peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan, kepala sekolah, serta stakeholder atau masyarakat sebagai pengguna lulusan. “Kesemua bagian tersebut harus sinergi untuk menghasilkan kinerja sekolah berupa prestasi siswa yang optimal sesuai dengan karakteristik dan jenis kekhususan yang disandangnya,” katanya.

Elka menyebutkan, strategi pengembangan mutu lulusan dalam hal ini didasarkan pada dimensi-dimensi konsep pengembangan mutu, yaitu:
a. Perencanaan
Perencanaan Strategi disusun untuk mempersiapkan masa depan sebuah organisasi. Perencanaan merupakan salah satu langkah awal dalam proses manajemen strategis dalam meningkatkan mutu lulusan. Dalam memutuskan sesuatu yang mendasar tersebut yang kami lakukan adalah berbagai tahapan sebagai berikut:
1) Analisis Lingkungan Internal
Hal ini dilakukan untuk menemukan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki sekolah serta ancaman dan peluang yang mungkin timbul. Dalam melakukan analisis tersebut dibutuhkan kecermatan dalam melakukan pengamatan.

“Melalui analisis internal dan eksternal sekolah, juga membantu saya selaku kepala sekolah mengenal program-program dan pencapaian prestasi pada awal kepemimpinan. Saya terlebih dahulu mempelajari kepemimpinan kepala sekolah yang terdahulu bagaimana beliau-beliau memimpin sekolah ini, prestasi-prestasi apa yang sudah dicapai, program-program apa yang sudah tercapai dan yang masih berjalan,” ungkap Elka.

Hal ini bisa dijadikan salah satu acuan dalam menjalankan program selanjutnya, tambah Elka, disertai dengan diskusi bersama wakil kepala sekolah, koordinator satuan pendidikan SDLB sampai dengan SMALB, guru, tenaga administrasi sekolah, dan peserta didik, yakni analisis lingkungan eksternal, perumusan strategi, dan pelaksanaan strategi.

“Analisis lingkungan eksternal, saya menyadari tentang pentingnya melakukan pengamatan lingkungan eksternal sekolah. Karena perkembangan dan perubahan dalam sebuah organisasi pendidikan tidak terlepas dari pengaruh lingkungan baik internal maupun eksternal. Sekolah tidak hanya berinteraksi dengan peserta didik, guru, dan staf, tetapi juga berinteraksi dengan orang tua peserta didik, pemerintah dan instansi-instansi, masyarakat, serta perguruan tinggi. Sehingga untuk menentukan langkah ke depannya seperti apa? Saya juga harus memperhitungkan kondisi eksternal sekolah,” ujar Elka.

Terkait perumusan strategi, ungkapnya, langkah selanjutnya adalah merumuskan program-program dan kegiatan sekolah yang dapat meningkatkan mutu pelayanan dan mutu lulusan. Dalam merumuskannya memerlukan pertimbangan banyak hal. “Oleh karena itu dalam pelaksanaannya saya dibantu oleh wakil kepala sekolah masing-masing bidang memberikan masukkan,” katanya seraya menambahkan, sedangkan pelaksanaan strategi, urai Elka, menyangkut strategi program kurikulum. Peserta didik berkebutuhan khusus memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus, hal ini mengingat mereka memiliki hambatan internal, antara lain fisik, kognitif, dan sosial-emosional.

“Adapun strategi program kurikulum yang dilaksanakan di SLB Negeri 2 adalah sebagai berikut:
Pengembangan model kurikulum bagi anak berkebutuhan khusus, pengaturan program kerja guru,
pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar, dan laporan pendidikan,” katanya.

Pengembangan model kurikulum bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu:
a. Duplikasi Kurikulum, yakni peserta didik ABK menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa reguler. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra, tunarungu wicara, dan tunadaksa, dengan alasan peserta didik tersebut tidak mengalami hambatan intelegensi.

b. Modifikasi Kurikulum, yaitu kurikulum peserta didik reguler disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi anak berkebutuhan khusus. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada peserta didik tunagrahita, dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik giftid and talented.

c. Substitusi Kurikulum, yakni beberapa bagian kurikulum reguler ditiadakan dan diganti dengan yang kurang lebih setara, model kurikulum ini untuk anak berkebetuhan khusus dengan melihat situasi dan kondisinya.

d. Omisi Kurikulum, adalah bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan total, karena tidak memungkinkan bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat berpikir setara dengan anak reguler.

Pelaksanaan Strategi yang dilaksanakan di SLB Negeri 2 Indramayu meliputi:
a. Strategi Program Kurikulum
Peserta didik berkebutuhan khusus memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus, hal ini mengingat merekanmailiki hambatan internal antara lain fisik, kognitif, dan sisial-emosional, strategi program kurikulum yang dilaksanakan di SLB Negeri 2.

b)Strategi program kesiswaan
Penerimaan peserta didik baru, pembinaan siswa, pengembangan program khusus sesuai dengan jenis kekhususan peserta didik, pembinaan bakat dan pengembangan diri, strategi program ekstrakurikuler dan vokasional

c) Strategi Program Sarana Prasarana
Program Sarana dan Prasarana yang dikembangkan oleh SLB Negeri 2 Indramayu adalah pendataan kebutuhan sarana dan prasarana, pengajuan dan pengadaan alat dan bahan. Pengadaan alat dan bahan, pemeliharaan sarana dan prasarana, pemeliharaan lingkungan, penataan lingkungan yang aksesibel untuk peserta didik berkebutuhan khusus.

d) Strategi Program Hubungan masyarakat
Strategi program hubungan masyarakt yang dikembangkan adalah sosialisasi program sekolah, pertemuan dan kerjasama sekolah dengan stakeholder.

f) Strategi Peningkatan Profesionalisme Sumber Daya Manusia
Program peningkatan profesionalisme yang dikembangkan oleh SLB Negeri 2 Indramayu, diantaranya: Pelatihan dan workshop, keikutsertaan guru dalam kegiatan kolektif guru, mendorong dan mengikutsertakan guru dalam ajang lomba seperti lomba guru berdedikasi dan berprestasi, pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Program budaya literasi bagi Pendidik dan tenaga kependidikan, mengadakan kunjungan ke sekolah lain (studi komperatif), mengadakan hubungan dengan orang tua/wali peserta didik (sehingga guru dan orang tua akan dapat saling berkomunikasi, mengetahui dan menjaga peserta didik serta bisa mengarahkan pada perbuatan yang positif).

Karakter apa yang terapkan untuk peserta didik agar menjadikan lulusannya bermutu? Elka menyebutkan, setidaknya ada 5 karakter yang kami terapkan, yaitu:
a. Karakter Religius
Menanamkan karakter religius adalah langkah awal menumbuhkan sifat, sikap, dan perilaku keberagaman pada masa perkembangan berikutnya. Masa kanak-kanak adalah masa terbaik menanamkan nilai-nilai religius. Upaya penanaman nilai religius ini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan. Harus diingat, kesadaran beragama anak masih berada pada tahap meniru. Untuk itu, pengkondisian lingkungan sekolah yang mendukung proses penanaman nilai religius harus dirancang semenarik mungkin. Pada tahapan ini, peran guru menjadi sangat penting sebagai teladan memberi contoh baik bagi para peserta didik. Peran guru bukan hanya sekadar menjadi pengingat akan tetapi juga sebagai contoh bersama melaksanakan kegiatan bersifat religius dengan para peserta didik.

b. Cinta Kebersihan dan lingkungan
Penanaman rasa cinta kebersihan ditunjukkan pada dua hal, yaitu kebersihan diri sendiri dan kebersihan lingkungan. Kebersihan diri sendiri dimaksud agar membentuk pribadi sehat dan jiwa kuat. “Dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Kuat”. Dalam kondisi sehat serta jiwa yang kuat, maka peserta didik dapat mengikuti belajar mengajar dengan baik.

c. Sikap Jujur
Sikap jujur memberikan dampak positif terhadap berbagai sisi kehidupan, baik di masa sekarang ataupun akan datang. Kejujuran merupakan investasi berharga dan modal dasar bagi terciptanya komunikasi efektif dan hubungan yang sehat. Anak sebagai pribadi jujur dan peka terhadap lingkungan luar, memiliki hubungan yang harmonis dan komunikasi baik terhadap orang lain. Hubungan seprti ini dapat menciptakan rasa saling percaya di antara keduanya. Pada masa sekolah inilah merupakan saat ideal guru menanamkan nilai kejujuran pada peserta didik.

d, Sikap Peduli
Peduli merupakan sikap dan tindakan selalu ingin memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan. Menanamkan rasa kepedulian kepada peserta didik dapat ditanamkan di sekolah dengan berbagai cara. Dengan adanya sikap peduli yang melekat dalam diri peserta didik akan disenangi oleh banyak orang.

e. Rasa Cinta Tanah Air
Cinta tanah air atau nasionalis adalah cara berfikir, bertindak, dan berwawasan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karakter nasionalis dapat ditanamkan melalui pembiasaan-pembiasaan di sekolah. Penanaman sikap nasionalis ini, menjadikan peserta didik pribadi yang rela berkorban dan memosisikan diri di barisan terdepan dalam menjaga dan menyelamatkan negara tercinta.

“Melalui penanaman kelima karakter di lingkungan sekolah ini, harapan anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual dan cara bersikap yang prima. Menjadi pribadi yang berilmu pengetahuan tinggi saja tentu tidak cukup, anak juga harus dibekali dengan sikap atau karakter yang baik,” ucap Elka.

Peran yang dapat dilakukan sebagai kepala sekolah, tegas Elka, adalah melakukan pembinaan terus menerus dalam hal pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan karakter (reinforcing) yang baik terhadap semua warga sekolah. Pembinaan bagi guru, tenaga administrasi sekolah, dan peserta didik ini menjadi bagian penting untuk membangun pendidikan melalui peran, serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkarakter pula. “Menjadi teladan bagi guru, karyawan, peserta didik, dan bahkan orang tua/wali peserta didik. Secara teratur dan berkesinambungan melakukan komunikasi dengan warga sekolah mengenai terwujudnya budaya sekolah dengan karakter terpuji sangat berpengaruh terhadap iklim yang akan tercipta di lingkungan sekolah,” tandas Elka.

Apa harapan Ibu untuk SLB Negeri 2 Indramayu ke depan? Elka berharap, dengan berkolaborasi beserta guru, tenaga administrasi, komite sekolah, serta stakeholder sekolah lainnya untuk mewujudkan SLB Negeri 2 Indramayu menjadi sekolah yang “BERBINTANG”, yaitu sekolah yang siap menghadapi berbagai halangan sebagai tantangan, dan mengubah tantangan menjadi peluang.

Artinya, jelas Elka, sekolah akan memaksimalkan sumber daya yang ada, serta terus melengkapi dan meningkatkan segala kekurangan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik, sehingga akan terbentuk peserta didik yang berkarakter dan memiliki prestasi sesuai karakteristik, dan jenis kekhususannya, hingga pada gilirannya mereka akan menjadi “BINTANG” bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, juga bangsa dan negaranya.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar