Kepala SLB Al-Hikmah, Padalarang, KBB, Jerri Miftahudin Koesnurrijal, S.Pd.,M.M.,

Guru ABK Harus Mempunyai Disiplin Ilmu Tentang Pendidikan Luar Biasa

Guru ABK Harus Mempunyai Disiplin Ilmu Tentang Pendidikan Luar Biasa Bentar Wibisana Kepala SLB Al-Hikmah, Padalarang, KBB, Jerri Miftahudin Koesnurrijal, S.Pd.,M.M.

PADALARANG, GJ.com - Sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) atau online menjadi pilihan terakhir yang digunakan berbagai jenjang sekolah di Indonesia saat pandemi Covid-19 ini. Pembelajaran daring ini tentu memberikan tantangan tersendiri, baik bagi guru maupun siswa. Sebab, tidak jarang berbagai kendala muncul saat pembelajaran daring itu berlangsung.

Dalam pembelajaran daring atau istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini, mengajar murid yang normal saja banyak guru, bahkan orang tua yang mengeluh akibat mengalami kesulitan dalam berbagai hal, itu bagi siswa yang normal. Lalu sesulit apa ketika guru harus mengajar secara daring, dan orang tua harus mendampingi anak berkebutuhan khusus (ABK)?

Seperti yang dirasakan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Hikmah, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jerri Miftahudin Koesnurrijal, S.Pd.,M.M., ada beberapa kesulitan saat menjalankan sistem pembelajaran daring di sekolahnya. Selain jaringan internet yang tidak stabil menjadi suatu kendala yang memang dirasakan oleh banyak sekolah, termasuk di sekolah yang dikelolanya.

“Pada intinya kami sangat kesulitan saat berinteraksi dengan para siswa melalui sistem pembelajaran daring ini, sehingga materi yang diajarkan pun sulit diterima dengan baik oleh para anak-anak,” kata Jerri.

Pada masa pandemi Covid-19, menurut Jerri, bagi siswa yang berkebuuhan khusus itu sangat unik beda dengan sekolah umum normal lainnya. Anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak tahu kondisi pandemi Covid-19, dan kita sangat sulit untuk menerangkannya secara detail.

“Mereka tahunya itu kalau libur setelah dibagi raport saja, tidak dibagi raport tidak libur. Nah, pada saat libur pandemi Covid-19 pada Maret lalu banyak anak-anak yang menangis ingin bersekolah. Meski orang tuanya sudah menjelaskan secara panjang lebar, tetapi mereka tidak memahaminya. Siswa SLB kan kalau tidak diterangkan secara berulang-ulang tidak akan paham,” jelas Jerri.

Menurut Jerri, karena setiap hari menangis, akhirnya orang tua membawa anaknya ke sekolah. Untuk menyikapi hal tersebut akhirnya kami menggunakan sistem belajar luring dengan guru piket, tetapi protokol kesehatan tetap menjadi hal utama. “Jadi kami menggabungkan metoda pembelajaran antara daring dengan luring, yaitu blended learning (BL) pembelajaran campur. Jadwalnya ada daring, juga sesekali luring, sehingga tiga konsep ini kita gunakan dala kegiatan belajar mengajar,” ujar Jerri.

Diungkapkannya, SLB Al-Hikmah saat ini memiliki kurang lebih 64 siswa-siswi yang terdiri dari anak tunagrahita, tunarungu, down syndrome, tunadaksa, celebral palcy dan autis. Untuk gurunya, guru ASN ada 3, guru honornya ada 10 ditambah, dan seorang caraka.

Luas sekolah SMA Al-Hikmah Kab. Bandung Barat ini 600 M persegi yang terdiri dari ruang kepala sekolah, ruang guru, 10 rombel, ruang caraka 1 ditambah dengan dapur, 3 kamar untuk guru dan siswa), ruang UKS, 2 ruang keterampilan, dan aula.

Jerri diangkat menjadi guru SLB pada tahun 1985, sesuai dengan SK CPNS di SLBB Darma Asih Kota Depok. “Saya sebagai guru sampai tahun 2003 menjadi guru SLB Darma Asih Kota Depok. Tahun 2004 diangkat menjadi kepala sekolah SLB C Purnabakti Pertiwi di Kab. Sukabumi sampai 2006. Kemudian lalu dipindahkan ke SLB BC YPLB Cibaduyut selama 10 tahun. “Pada Januari 2017 dipindahkan ke SLB Al-Hikmah Padalarang Kab. Bandung Barat sampai sekarang,” kata Jerri.

Menurutnya, menjadi guru SLB itu harus mempunyai disiplin ilmu tentang pendidikan luar biasa. Alhamdulillah tahun 1981 masuk D3 IKIP jurusan PLB, dan lulus tahun 2084, setahun kemudian mendapat SK pengangkatan sebagai CPNS di SLBB Darma Asih Kota Depok dengan TMT 1 Maret 1985.

“Mulai mengajar di Depok tahun 1986, disitu saya mulai mengajar untuk siswa tunarungu, karena di sana ada 2 spesifik, yaitu anak tunagrahita dan tunarungu, dan jumlah siswa mencapai 200 orang,” aku Jerri.

SLB ini, ucap Jerri, didalamnya khusus anak-anak yang berkebutuhan khusus mulai dari anak tunanetra handicapnya di mata, anak tunarungu handicapnya di bicara dan pendengaran, anak tunagrahita handicapnya di IQ (Intelegensi), dan tunadaksa anak yang handicapnya di cacat tubuh, dan terakhir anak yang tuna laras gangguanya di emosi, jadi kalau kesenggol sedikit emosi.

Guru SLB itu, kata Jerri, selain harus memiliki ilmu khusus, juga kesabaran dan tawakal dalam mendidik, tidak boleh cepat puas, harus diulang-ulang sampai anak paham. Mengenai hasilnya itu serahkan saja pada Allah SWT, karena kita sudah berusaha mendidik mereka dengan ikhlas dan tawakal.

Menyinggung program di SLB Al-Hikmah, Jerri menegaskan, sesuai dengan kurikulum, yakni vocational 90 %, akademis 10 %, jadi semua SLB mengikuti kurikulum yang berlaku untuk anak berkebutuhan khusus.

Sebagai kepala sekolah, kata Jerri, dirinya berharap, selain anak mampu menerima Ilmu yang didapat dari bapak/ibu gurunya, juga dia bisa mengamalkan di masyarakat terutama vocational. Jadi ketika lulus anak bisa mengamalkan ilmu yang didapat di sekolah dengan penuh percaya diri, dan mandiri.

“Saya ingin anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa menunjukkan bahwa dirinya mampu mengamalkan ilmunya, , terutama khusus untuk vocationalnya, keterampilan, life skillnya seperti menjahit, melukis, membuat kreasi barang bekas, menyanyi, olahraga bouce, batminton, sehingga nanti ketika dia keluar dia bisa ikut bersaing dengan masyarakat umum,” harap Jerri.

Ketika dia bisa bersaing dengan masyarakat umum, jelas Jerri, berarti dia bukan lagi anak ABK, dia seperti orang normal aja, meskipun dia alumni SLB. “Nah, harapan itulah yang menjadi didikan kami. Ketika dia mendapatkan ilmu, dia bisa bergaul dimasyarakat tampa ada rasa malu, dia malah percaya diri dan mandiri,” ujarnya.

Seperti alumni SLB yang bernama Fuji, lanjut Jerri, dia sudah bekerja meski masih tenaga honorer Disdik Provinsi Jawa Barat. Ia sekarang sudah adaptasi, sudah tidak malu lagi, malah bisa membantu staf yang tidak tunarungu. Ia ahli di bidang design grafis.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar