Kadisdik Jawa Barat, Dewi Sartika Apresiasi “Pesona Kreativitas Siswa 2019”

PEMENTASAN OPERET "NUANSA BUDAYA TATAR PRIANGAN" MEMUKAU PENONTON

PEMENTASAN OPERET "NUANSA BUDAYA TATAR PRIANGAN" MEMUKAU PENONTON Bentar Wibisana

PEMENTASAN operet yang disuguhkan oleh para peserta Grand Final “Pesona Kreativitas Siswa 2019” – Pemilihan Putra Putri Pelajar SMA dan SMK Kreative Tingkat KCD VI, VII, VIII, XI, XII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang bertajuk “Nuansa Budaya Tatar Priangan”, memukau para penonton di Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Jl. Dr. Radjiman No. 6 Kota Bandung, Sabtu (21/12/2019)

Ratusan penonton yang memadati gedung tersebut dan banyak didominasi oleh kaum milenial, kepala sekolah, guru pembimbing dan orang tua dari siswa yang menyaksikan perhelatan tahunan yang digagas majalah “Sekolah JUARA” dan bekerjasama dengan DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), sangat antusias mengikuti alur cerita operet tentang keanekaragaman budaya Sunda selama sekitar 45 menit itu.


Penampilan taleneta-talenta muda yang merupakan siswa SMA dan SMK dari wilayah KCD VI, VII, VI, XI dan XII itu membuat dercak kagum Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Barat, Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si. “Saya melihat pertunjukan ini sangat bagus dan luar bisa, karena merupakan sebuah kolaborasi. Bener-benar saya melihatnya betah banget,” tuturnya.


Menurut Dewi, ini adalah sebuah kreasi dan ide luar biasa yang sukses mengolaborasikan intra dan ekstrakurikuler melalui sebuah pertunjukan. Perpaduan masing-masing jenis ekskul dalam satu waktu memberikan warna yang indah dan kreatif,” ungkapnya.


Menurut Kadisdik, dirinya sangat mengapresiasi kegitan ini dan merasa kagum dengan bakat para siswa di Jawa Barat. “Saya berharap, ajang ini bisa terus digelar demi tercapai harmonisasi siswa yang berkarakter dan kreatif di masa depan. Memang seharusnya anak-anak ini terus dibina, karena sebetulnya ini akan menjadi aset. Kita akan coba untuk menjadi wadah pembinaan putra-putri Jawa Barat yang memiliki talenta-talenta yang luar biasa,” tandasnya.
Dikatan Dewi, kegiatan ini merupakan tahun ketiga dan insya Allah tahun-tahun berikutnya akan lebih banyak lagi pesertanya yang mengikuti, serta lebih banyak lagi kompetensi-kompetensi lainnya, sehingga bakat anak-anak bisa dimunculkan.


“Saya sangat bangga karena ruang-ruang seperti inilah yang diharapkan, sehingga talenta-talenta atau bakat dari anak-anak diasah terus. Biasanya kalau mereka sering tampil akan menjadi lebih percaya diri, lebih banyak belajar, dan tentu saja membawa mereka lebih dewasa,” jelasnya.


Dewi menyebutkan, mudah-mudahan kegiatan pesona kreativitas siswa ini bisa menjadi ajang positif bagi anak-anak kita untuk terus mengembangkan bakatnya. Hari ini, tentu menjadi hari yang baik dan menjadi energy bagi kami, terutama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan sangat menyambut baik, mudah-mudahan ajang ini mempunyai peluang-peluang untuk terus mengembangkan potensi dan bakat anak-anak.


“Apalagi ada beberapa universitas yang akan memberikan beasiswa, jadi berbahagialah 50 peserta grand final dari seluruh Jawa Barat yang hari ini akan tampil dan menjadi juara. Terimakasih kepada pihak penyelenggara kegiatan ini, mudah-mudahan bisa menyebarkan kegiatan yang baik ini dan isya Allah kami akan mendukung, sehingga setiap tahun kegiatan ini bisa tetap dilaksanakan di Aula Ki Hajar Dewantara ini.


Untuk anak-anak, kata Dewi, selamat berjuang, selamat berlomba, dan yang paling penting terus mengasah skill, baik soft skill maupun hard skill dan mudah-mudahan menjadi anak yang hebat, mandiri dan tidak takut menghadapi perubahan, serta berani menghadapi masa depan.

Sementara itu, Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd., dalam sambutannya pada acara Grand Final “Pesona Kreativitas Siswa 2019” mengatakan, digelarnya kegiatan pesona kreativitas siswa ini karena menyadari tidak banyak event-event yang bisa mewadahi beberapa potensi dan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah secara tidak rutin.


“Jika SMK mempunyai LKS dan ilmiahnya OSN yang sudah rutin dilaksanakan, tetapi mungkin saja ekskul pencak silat atau ibing tidak setiap saat ada lombanya. Begitu juga dengan siswa yang mempunyai bakat pada modelling, juga di SMA/SMK tidak ada lomba modelling, kecuali di jurusan tataboga, itupun hanya model saja,” katanya.


Menurut Asep, kegiatan ini adalah bagian dari peluang bagi potensi-potensi anak didik untuk menyalurkan minat dan bakatnya sesuai dengan hobi dan kemampuannya, sehingga mereka memiliki keterampilan yang bisa memberi manfaat dikemudian hari. “Kami ingin melahirkan minat dan bakat yang murni, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari life skill. Kegiatan ini juga kami persembahkan untuk Jabar juara, jadi kami memiliki juara-juara untuk kemudian mendukung program Jabar juara lahir batin,” katanya.


Dikatakan Asep, sebelum para peserta mengikuti grand final, mereka dikarantina selama tiga hari di hotel dan dibekali keterampilan-keterampilan yang mudah-mudahan dibutuhkan di masa depan, seperti kepribadian, public speaking, termasuk juga dilatih untuk berpenampilan, sehingga mereka mendapat bekal paling tidak menjadi jawaban bagi dirinya untuk masa depannya.

“AKSI bekerjsama dengan majalah “Sekolah JUARA” membuka celah-celah potensi dan kemampuan siswa dari sisi nonakademik, sehingga minat, bakat, potensi mereka bisa kita salurkan dan kembangkan,” ujarnya. ***

Editor: Rusyandi

Komentar