Kesehatan Mental Siswa Pasca BDR

Kesehatan Mental Siswa Pasca BDR ist

SALAH satu persoalan psikologis yang merisaukan terkait dengan kesiapan siswa untuk belajar ialah gangguan kecemasan untuk bersekolah (school anxiety disorder). Cirinya, siswa merasa kegelisahan yang amat mendalam saat akan berangkat ke sekolah. Begitu cemasnya, sampai-sampai anak bisa jatuh sakit. Kini, masalahnya justru terbalik, tidak sedikit anak-anak yang rindu segera kembali ke sekolah. banyak fakta menunjukkan bahwa peran guru di sekolah memang masih terlalu berat untuk digantikan para ‘guru darurat’ di rumah saat ini. Jangankan menciptakan suasana belajar yang hangat, tidak sedikit orang tua dan anak-anak yang justru mengakui bahwa rumah terasa begitu mencekam sejak wabah Covid-19 hadir.

Genap 10 bulan kegiatan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan sistem Belajar dari Rumah (BDR) selama masa pandemi Covid-19 baik itu secara daring maupun luring. Tentu saja banyak hal-hal yang dikorbankan selama kegiatan BDR ini demi mendahulukan kesehatan anak yang memang harus menjadi prioritas utama dalam masa pandemi ini. Tidak optimalnya kegiatan pembelajaran dengan berbagai kendala dari mulai fasilitas pendukung, kesiapan siswa untuk belajar mandiri di rumah, orang tua siswa yang banyak tidak bisa men-support pembelajaran anak karena berbagai faktor dan alasan sampai skill dan kompetensi guru yang masih perlu ditingkatkan untuk memberikan layanan pembelajaran jarak jauh yang optimal dengan berbagai metode dan teknik berbasis teknologi informasi.

Ketercapaian materi pembelajaran sendiri bukanlah prioritas dalam proses pembelajaran BDR ini, justru yang perlu kita sikapi baik sebagai seorang pendidik maupun orang tua siswa, salah satunya adalah pengaruh BDR terhadap perkembangan mental dan psikologi anak. Menurut Lee (2020) dalam artikel penelitiannya mengungkapkan bahwa dari 90% anak usia sekolah didunia yang tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran secara normal di sekolah akibat pandemi covid-19, mayoritas anak tersebut menunjukkan gejala depresi dan penurunan kesehatan mental yang terus memburuk seiring lamanya anak tidak berinteraksi dengan teman sejawat dan guru di sekolah.

Pernyataan di atas juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Anhui Medical University di China yang mengungkapkan bahwa penutupan sekolah memiliki dampak negatif pada kesehatan mental anak. Penelitian tersebut terbagi ke dalam dua golongan, yaitu golongan pertama pada pekan pertama November 2019 (sebelum terjadinya pandemi) dan golongan kedua pada pertengahan Mei 2020, saat sekolah telah dibuka kembali setelah lockdown akibat pandemi. Dalam kedua golongan subjek penelitian tersebut, peneliti memberikan pertanyaan terkait gejala depresi, gejala kecemasan, cedera diri nonsuicidal, ide untuk bunuh diri, rencana untuk bunuh diri, dan percobaan bunuh diri para responden.

Dari keenam faktor di atas, hanya gejala kecemasan yang tidak mengalami peningkatan, sedangkan lima faktor lainnya meningkat. Gejala depresi meningkat sebesar 6.4%, cedera diri nonsuicidal (non bunuh diri) meningkat sebesar 10.2%, ide untuk bunuh diri meningkat sebesar 7.2%, rencana untuk bunuh diri meningkat sebesar 5.9%, dan percobaan bunuh diri meningkat sebesar 3.4%. Masih banyak lagi penelitian-penelitian yang mengungkap dampak dari penutupan sekolah terhadap kesehatan mental anak, hal ini sudah cukup menjadi alarm tanda bahaya bagi kita, baik sebagai guru maupun orang tua terkait degradasi kesehatan mental anak akibat penutupan sekolah selama 10 bulan ke belakang.

Pentingnya kesehatan mental anak

Kesehatan mental anak-anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka. Kesehatan mental yang baik memungkinkan anak-anak dan remaja untuk mengembangkan ketahanan untuk menghadapi apa pun yang terjadi dalam kehidupan mereka dan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan utuh.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), sebelum pandemi Covid-19 ini sekitar 10-20% anak-anak dan remaja didunia mengalami gangguan mental. WHO menawarkan beberapa wawasan lain untuk dipertimbangkan. Dimana 50% dari semua penyakit mental dimulai pada usia 14 tahun. 75% terjadi pada pertengahan 20-an dan kondisi neuropsikiatri adalah penyebab utama dari gangguan mental anak.

Kondisi atau gangguan neuropsikiatri adalah istilah luas yang digunakan untuk menggambarkan penyakit yang secara negatif memengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, bekerja, dan mengatasi emosi. Penyakit ini memiliki dasar neurologis dan psikologis. Garis besarnya adalah jenis gangguan ini dapat dan sangat mungkin memengaruhi fungsi otak, emosi, dan suasana hati dari anak. Jika anak-anak kita biarkan terganggu dan terus mengalami degradasi kesehatan mental, maka kita bisa membayangkan bagaimana kondisi masyarakat indonesia dan dunia pada umumnya dikemudian hari yang akan didominasi oleh orang-orang yang memiliki kesehatan mental yang buruk, memiliki gangguan emosional dan tanpa kecerdasan sosial yang tentunya jauh dari manusia berkarakter yang diperlukan oleh masyarakat dan menjadi tujuan utama dari proses pendidikan yang kita selenggarakan.

Lalu adakah yang dapat kita lakukan, sebagai seorang pendidik, untuk memulihkan bahkan memperbaiki kondisi kesehatan mental siswa kita?

Menciptakan Student's Well-Being

Menghadapi pengaruh dari luar yang sangat kuat, seperti pengaruh wabah COVID 19 sekarang ini, maka semua peserta didik wajib memiliki well-being yang baik. Well-being adalah kondisi mental dan emosi yang relatif konsisten. Ilmuwan Dr Imelda Caleon menjelaskan bahwa well-being adalah konstruksi multidimensi yang kompleks. Beberapa mungkin menyamakannya dengan kebahagiaan dan kualitas hidup. Namun, ini sering kali dipahami sebagai kombinasi dari 'perasaan baik' dan 'berfungsi dengan baik'.

Menurut Noble dan Mcgrath (2013), Student's well-being adalah keadaan emosional berkelanjutan yang menunjukan karakter suasana hati dan prilaku yang positif dari siswa, hubungan yang positif dengan teman dan guru, memiliki resiliensi diri dan sikap yang optimis serta adanya kepuasan siswa pada pengalaman belajar nya di sekolah yang dapat dirangkum menjadi empat aspek positivity, resilience, self-optimisation dan satisfaction.

Beberapa asumsi menjelaskan pentingnya relasi positif guna meningkatkan kesehatan mental dan kecerdasan emosi anak, diantaranya:
1) perasaan positif yang dirasakan siswa bersumber dari rasa terhubung atau terkoneksi dengan berbagai kalangan di sekolah baik dengan siswa lainnya, guru, tenaga kependidikan dan civitas akademik sekolah lainnya, maka dari relasi positif tersebut akan membentuk perasaan nyaman dan diterima di sekolah;
2) siswa difasilitasi dan didorong untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan keorganisasian siswa lainnya yang sesuai dengan minat dan bakat siswa, ;
3) lingkungan fisik yang nyaman seperti ruang terbuka hijau, fasilitas bermain dan berinteraksi dengan lingkungan ; dan
4) perasaan bangga dari diri sisa akan dirinya sendiri dan lingkungan sekolah dengan berbagai faktor terkait penghargaan diri dan penghargaan akan prestasi individual dan lembaga sekolah baik berupa penghargaan internal maupun dari pihak ekstrenal.

Guna mengefektifkan hubungan sosial emosional di kalangan warga sekolah, maka pihak sekolah perlu melakukan pemetaan hubungan (mapping relationship) warga sekolah, guna mengetahui sejauh mana hubungan sosial dan emosional di kalangan warga sekolah, seperti hubungan sosial emosional antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, kepala sekolah dengan guru. Banyak riset membuktikan bahwa, hubungan social emosional diantara warga sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik.
Terakhir, terkait dengan konsep Student’s Well-being, Nadiem Anwar Makarim selaku Mendikbud RI menghimbau kepada kita untuk mulai melakukan perubahan kecil dari ruang kelas, ajaklah kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. galakan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh siswa. Temukan potensi dan kekuatan dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan mengajar. Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Penulis: Agie Ginanjar, S.Pd., Guru SMA Negeri 2 Padalarang, Kabupaten Bandung Barat

Sumber referensi :
Lee, J. (2020). Mental health effects of school closures during COVID-19. The Lancet Child and Adolescent Health, 4(6), 421. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(20)30109-7
Poulou, M. S. (2020). Students’ adjustment at school: The role of teachers’ need satisfaction, teacher–student relationships and student well-being. School Psychology International, 41(6), 499-521.
https://singteach.nie.edu.sg/issue64-bigidea/

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar