Kepala SMK Negeri 1 Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Drs. H. Carma Rahmat, M.Pd.,

Asesmen Kompetensi Minimal Pengganti Ujian Nasional

Asesmen Kompetensi Minimal Pengganti Ujian Nasional Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Ketika Ujian Nasional (UN) masih dilaksanakan siswa menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral dan menakutkan. Bahkan, menjelang UN berlangsung suasananya pun terasa semakin mencekam.

Sebelum pelaksanaan UN tidak sedikit sekolah menggelar berbagai program sebagai upaya menentramkan siswa, seperti mengadakan shalat berjamaah dan doa bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar muidnya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. UN laksanaka momok yang menakutkan, baik bagi siswa maupun guru.

Memasuki tahun 2021, baik siswa maupun guru tampaknya bisa bernapas lega. Pasalnya penyelenggaraan UN tahun ini ditiadakan, dan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter (SK).

Menurut Kepala SMK Negeri 1 Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Drs. H. Carma Rahmat, M.Pd., kepada Gorajuara.com belum lama ini, seperti kita ketahui penyelenggaraan UN tahun 2021 dihapus, dan sebagai penggantinya adalah Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. “Selamat tinggal ujian nasional,” katanya.

Asesmen Kompetensi Minimum dan Survey Karakter, jelas Carma, terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Dalam menghadapi AKM dan SK di tahun 2021 yang baru pertama kali dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai pengganti UN, khususnya di SMKN Cilengkrang 1, kata Carma, kami memulai dengan tahapan sosialisasi kepada siswa dan para guru apa, serta bagaimana AKM dan SK tersebut.

Dalam menyikapi hal tersebut, menurut Carma, sebagai kepala sekolah dirinya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para guru untuk mengikuti zoom meeting, dan mengirimkan guru-guru untuk mengikuti kegiatan-kegiatan seminar, baik dilakukan melalui luring maupun zoom meeting.

Setelah mensosialisasikan tentang AKM dan SK, menurutnya, kami juga memperkuat pemahaman kepada guru tentang AKM tersebut. “Tidak hanya guru saja, tetapi saya pun sebagai kepala sekolah harus terus belajar dan mempelajari apa dan bagaimana AKM dan SK tersebut,” tutur Carma.

Dalam menyikapi AKM dan SK, tandas Carma, kami melakukan In House Training (IHT) dan Workshop dalam rangka memahami yang berkaitan dengan AKM dan SK sekaligus penyusunan soal-soal yang terfokus pada literasi dan numerasi dengan mengundang narasumber Dr. Hj.Tita Lestasi, M.Pd.,M.Si., yang merupakan praktisi pendidikan, ahli psikometri pendidikan, dan konsultan di GTK Kemendikbud.

Diungkapkan Carma, IHT diikuti oleh seluruh guru mata pelajaran SMK Negeri 1 Cilengkrang dengan menerapkan protokoler pencegahan wabah Covid-19, yakni 3M (Menjaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan).

“Tryout tentang AKM dan SK juga sudah dilaksanakan dengan melibatkan perwakilan siswa dan itu diselenggarakan langsung oleh Kemendikbud. Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) besar bagi seluruh pengelola sekolah dimana pun berada, yaitu kita harus mensosialisasikan segera dan melakukan langkah-langkah persiapan AKM dan SK sebagai pengganti ujian nasional pada tahun 2021,” ujarnya.

AKM dan SK ini masih dalam tahap proses sosialisasi dan pemahaman, urai Carma, maka yang perlu dilihat atau dipahami apa tujuan dari AKM dan SK itu. “AKM dan SK bertujuan mengukur kemampuan literasi membaca, literasi numerasi dari peserta didik.

“Sebab tidak bisa dipungkiri, memang budaya literasi membaca masyarakat kita masih rendah dan mengkhawatirkan. Berdasarkan penelitian dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan ternyata indeks aktivitas membaca warga di 34 provinsi itu masih rendah,” katanya.

Ia menjelaskan, AKM dan SK adalah kompetensi dasar yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar, apapun materinya dan apapun mata pelajarannya. Sehingga materi AKM ada dua, yaitu terkait literasi atau baca tulis, serta literasi numerasi.

“Literasi yang dimaksudkan di sini bukan sekedar kemampuan membaca, tapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut,” ujarnya.

Sedangkan numerasi, tambah Carma, adalah kemampuan menganalisis menggunakan angka, serta menekankan literasi dan numerasi bukan tentang mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan murid agar dapat menggunakan konsep literasi ini untuk menganalisa sebuah materi.

Hal ini dilihat dari 4 dimensi yang menjadi tolak ukur, lanjut Carma, yaitu kecakapan, akses, alternatif serta budaya, dan dari 4 aspek tersebut baru dimensi kecakapan yang hasilnya cukup baik, sehingga harus kita pahami tidak ada penilaian tanpa proses pembelajaran.
Artinya, urai Carma, AKM dan SK akan berhasil apabila proses pembelajaran yang mencerminkan tujuan pembelajaran yang membuat indikator kemampuan literasi membaca dan numerasi bisa terlaksana dengan baik di sekolah-sekolah.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar