SMPN Satu Atap Cikoneng Membutuhkan Sumber Air Bersih

SMPN Satu Atap Cikoneng Membutuhkan Sumber Air Bersih Sasra Firmansyah Kepala SMPN Satu Atap Cikoneng H. Mamad, S.Pd., M.M., (kanan duduk) didampingi Tenaga Pendidikan lainnya, Dadan Suhendan, S.Pd.,

Kabupaten Bandung, "GJ".com - Ratusan siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di lingkungan SMPN Satu Atap Cikoneng yang berlokasi di Kampung Cikoneng Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung Jawa Barat, masih mengalami kendala dalam ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sanitasi/MCK di lingkungan sekolah tersebut. 

Pantauan di lingkungan sekolah yang berada di kawasan perbukitan dan perkampungan itu, untuk pengadaan air bersih guna pemenuhan para siswa di toilet,  pihak sekolah harus membeli air bersih setiap bulannya. Pasalnya, belum ada sumber air permukaan atau air bawah tanah yang bisa dialirkan untuk kebutuhan para siswa maupun guru di lingkungan sekolah tersebut. 

"Karena berada di kawasan perbukitan, sehingga tak mungkin lagi mengalirkan air ke lingkungan sekolah dari sumber mata air lainnya, karena tidak ada sumber mata air. Salah satu cara untuk pengadaan air bersih di sekolah, kita harus mengebor air bawah tanah dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Itu juga masih spekulasi, apakah bisa keluar air atau tidak," kata Kepala SMPN Satu Atap Cikoneng H. Mamad, S.Pd., M.M., didampingi Tenaga Pendidikan lainnya, Dadan Suhendan, S.Pd., kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (30/11/2020).

Mamad mengatakan, untuk mencoba melakukan pengeboran air bawah tanah itu membutuhkan biaya lebih dari Rp 100 juta. "Kebutuhan anggaran ini yang menjadi pemikiran kita, sehingga kami berharap ada anggaran khusus dari dinas atau organisasi perangkat daerah Kabupaten Bandung untuk pengadaan sanitasi, khususnya air bersih di lingkungan sekolah. Tidak menutup kemungkinan ada dana hibah atau anggaran dari corporate social responsibility (CSR) dari pihak swasta/perusahaan untuk membantu dalam pengadaan air bersih bagi para siswa dan guru," tuturnya. 

Mamad menuturkan, pengadaan air bersih merupakan prioritas yang tak bisa ditunda-tunda karena bagian dari kebutuhan hidup manusia. "Makanya, disaat ada kegiatan pendidikan pada kondisi normal sebelum pandemi Covid-19, kita membeli air sebanyak empat tangki pada setiap bulannya dengan biaya Rp 1,2 juta. Bahkan disaat pandemi Covid-19, dan anak-anak belajar di rumah melalui daring, khususnya untuk para guru dan sewaktu-waktu para siswa datang ke sekolah, tetap persediaan air bersih harus ada," tuturnya. 

Apalagi pada Januari 2021 mendatang, imbuh Mamad, persiapan menghadapi kegiatan belajar mengajar tatap muka. "Tapi kita tetap akan melaksanakan relaksasi belajar tatap muka dengan cara mengatur waktu pembelajaran. Minimal siswa yang hadir di kelas itu 50 persen, dari kapasitas ruang kelas. Kegiatan belajarnya pun dibatasi, selama dua jam per satu kali tatap muka. Kemudian kegiatan belajar tatap mukanya diganti siswa lainnya secara bergiliran," tuturnya. 

Mamad mengatakan, kegiatan belajar tatap muka untuk sementara bidang studi yang dianggap penting, yang harus dilaksanakan di ruang kelas. Dalam pelaksanaannya pun tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat, supaya para siswa dan guru dalam kondisi sehat. 

"Kegiatan belajar mengajar tatap muka itu tetap melihat situasi dan kondisi. Dalam kondisi lingkungan aman dari penyebaran Covid-19, belajar tatap muka bisa dilaksanakan. Kalau berisiko tinggi penyebarannya, belajar tatap muka pun kembali ditunda, sampai kondisi aman," pungkasnya.**

Penulis : Sasra Firmansyah

Editor: Ervan Radian

Bagikan melalui:

Komentar