Alsintan Combine Harvester Menekan Kehilangan Hasil Panen Mencapai 6 Persen

Alsintan Combine Harvester Menekan Kehilangan Hasil Panen Mencapai 6 Persen Sasra Firmansyah

Bandung,”Gorajuara”.com  - Untuk menekan kehilangan hasil panen atau losis hingga 6 persen (378 kg gabah kering panen per hektare), sejumlah petani  menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) jenis combine harvester pada lahan seluas 25 hektare di Kelompok Tani Jatiwaluya  Desa Bojong Emas Kecamatan Solokanjeruk Kabupaten Bandung Jawa Barat, Senin (19/10/2020). 

Sebelum menggunakan alsintan tersebut, hasil panen rata-rata 6,3 ton per ha, setelah menggunakan combine harvester hasil panen pun meningkat.

Dengan menggunakan alsintan tersebut, kehilangan hasil panen bisa kurang dari 2 persen, sehingga dapat meningkatkan produksi pertanian yang dihasilkannya. 

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung Ir. H. A. Tisna Umaran, M.P., mengatakan gerakan mekanisasi panen pertanian dengan menggunakan alsintan combine harvester dapat menekan kehilangan hasil panen yang cukup signifikan dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh para petani.

"Panen dengan cara konvensional, selain memerlukan waktu yang agak lama juga tingkat  kehilangan hasil panen atau losis rata-rata  mencapai 8 persen.  Sekarang ini dengan mekanisasi panen pertanian menggunakan alsintan combine harvester  tersebut bisa menekan kehilangan hasil panen sampai 6 persen, sehingga kehilangan hasil semakin sedikit, yaitu sekitar  2 persen," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Bandung Ir. Ina Dewi Kania, M.P, kepada wartawan di sela-sela melaksanakan kegiatan panen dan sosialisasi alsintan combine harvester di Jalan Sapan Desa Bojongemas, Senin pagi.

Menurut Ina, kehilangan hasil panen mencapai rata-rata  8 persen itu, jika para petani melaksanakan  panen padi dengan cara manual atau konvensional  dipotong menggunakan sabit. "Berbeda dengan cara menggunakan combine harvester, hasil panen langsung masuk karung," kata Ina. 

Panen dengan cara menggunakan alsintan tersebut, imbuh Ina, tetap tak mematikan tenaga kerja panen.  Pasalnya, disaat panen tersebut tetap membutuhkan tenaga kerja untuk mengangkut hasil panen, selain tenaga operator alsintan tersebut. 

"Dengan adanya kelebihan dari cara kerja alsintan panen tanaman padi tersebut, kita langsung memperkenalkan dan mensosialisasikannya kepada para petani. Bahkan dengan penggunaan combine harvester ini untuk mengantisipasi kesulitan tenaga kerja saat pelaksanaan panen padi," tuturnya. 

Ia mengatakan, dengan penggunaan teknologi modern ini, seiring dengan  konsep pembangunan pertanian yang digulirkan oleh  Kementerian Pertanian RI, yaitu maju, mandiri dan modern. Bahkan sebelum menggunakan peralatan yang lebih canggih combine harvester, lanjutnya, Distan sudah merintisnya dari sejak awal yaitu menggunakan power thresser untuk menekan kehilangan hasil.  

Menurutnya, banyak kelebihan dari penggunaan alsintan senilai Rp 480 juta per unitnya itu. Dalam sehari bisa digunakan pada lahan seluas 5 hektare, dengan kemampuan operasional seluas 1 hektare selama 2 jam, hal ini telah berjalan di beberapa daerah seperti  di Subang, Karawang, Sulawesi dan beberapa wilayah lain.  

"Pengadaan alsintan ini bukan bantuan dari pemerintah. Ini murni hasil petani yang membeli combine harvester tersebut," ungkapnya. 

Distan sangat mengapresiasi kerja keras para petani yang sudah memiliki alsintan tersebut. Penggunaan alat panen ini sangat cocok di lahan pertanian padi pada kawasan dataran rendah, seperti di Solokanjeruk, Bojongsoang, Rancaekek, Cicalengka, Ciparay, Baleendah dan dataran rendah lainnya. 

"Dengan penggunaan alat panen ini, tenaga kerja yang semakin sulit dapat teratasi dan pelaksanaan panen dapat  lebih cepat. Bahkan penggunaan alsintan ini bisa mengantisipasi disaat masa panen serentak, sehingga mengalami kekurangan tenaga kerja," katanya. 

Ia menuturkan, penggunaan alsintan tersebut lebih mengefisienkan waktu panen padi, selain menekan kehilangan hasil produksi tadi. "Produksi pun meningkat, jika dihitung dari 6 persen hasil produksi yang sebelumnya sempat hilang (losis) saat panen dengan cara konvensional," katanya. 

Lebih lanjut Ina menuturkan, produksi gabah kering panen mencapai rata-rata 6,3 ton per hektare. Berdasarkan data Distan  pada 2020, luas tanam padi mencapai  seluas 113.000 hektare lahan pertanian padi yang berhasil ditanami. 

"Disaat pandemi Covid-19 ini, enggak ada pengaruhnya pada sektor pertanian karena para petani tetap bekerja seperti biasa malah sektor pertanian tetap berkembang, untuk pemenuhan kebutuhan pangan disaat pandemi Covid-19," ujarnya. 

Bahkan sektor pertanian memberikan kontribusi PDB  mencapai 15,46  persen pada kuartal II dibandingkan tahun 2019 yang hanya 13,57 persen.  Di tengah Covid-19 sektor pertanian tetap tumbuh positif.

"Kami berharap, para petani lainnya  tertarik untuk melaksanakan panen menggunakan combine harvester," pungkasnya.**

 

Penulis : Sasra Firmansyah 

Editor: Ervan Radian

Bagikan melalui:

Komentar