Etik Sukmawati, S.Pd.,

SMKN 1 Cikalongkulon Sekolah Pencetak Wirausaha

SMKN 1 Cikalongkulon Sekolah Pencetak Wirausaha Bentar Wibisana

Sekolah Pencetak Wirausaha mendukung program dari bidang kurikulum dalam teaching factory. Siswa dalam Sekolah Pencetak Wirausaha tersebut adalah yang memiliki usaha online atau offline di luar produk sekolah.

Menyandang Sekolah Pencetak Wirausaha pastinya sangat membanggakan, karena SMK yang tergolong dalam lebel tersebut termasuk sekolah yang memiliki prestasi di skala nasional. Salah satu SMK dari sekian SMK di Indonesia yang menjadi SMK Pencetak Wirausaha oleh Kemendikbud pada tahun 2019 adalah SMK Negeri 1 Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur.

Bagaimana perjalanan SMK Negeri 1 Cikalongkulon bisa menjadi sekolah berkonsep Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW)? Menurut Koordinator Digital Chicalo, Etik Sukmawati, S.Pd., SPW ini mendukung program dari bidang kurikulum dalam teaching factory. Siswa dalam SPW tersebut adalah yang memiliki usaha online atau offline di luar produk sekolah.

“Kami juga didukung dari anak-anak yang ikut program teaching factory. Dalam program teaching factory ini produksinya, seperti dari jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) yang memproduksi roti, maka mereka harus sampai bisa menjualnya. Untuk modalnya bisa meminjam melalui Bank Mini, siswa memproduksinya di lab, dan setelah dijual modalnya dikembalikan lagi ke Bank Mini,” kata Etik.

Diungkapkan Etik, sampai sekarang SPW ini sudah ada sekitar 88 siswa yang punya usaha dan mereka omzetnya sudah lebih dari Rp 500 ribu/bulannya, tapi ada juga yang kurang dari itu, karena mereka tidak intens dalam menjual, tetapi kalau yang sudah intens biasanya di atas Rp 500 ribu/bulannya.

Untuk teaching factory, jelas Etik, produksinya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Misalnya untuk program kompetensi keahlian Agribisnis Ternak Unggas (ATU), ada yang memproduksi telor asin, jual beli ayam karena mereka pelihara ayam di rumah. Untuk Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (ATPH) tanaman hias, buah buahan bundling dengan sayur-sayuran. Untuk produk lain-lainnya itu biasanya dijual secara online, seperti berjualan baju, kosmetik dal lain-lain.

Untuk saat ini yang paling besar, urai Etik, bisnis ayam, dia mengambil ayam dari para peternak di sekitar wilayah sini untuk dibawa ke rumah pemtotongan hewan. Mereka mengirim berdasarkan order dari rumah pemotongan hewan. Itu omzenya sekali kirim bisa mencapai Rp 50 juta, tapi tidak setiap hari tergantung dari orderan dari rumah potong hewan. “Jadi dia hanya mengisi waktu saat belajar dari rumah dengan jualan ayam, dan keuntungannya bisa mencapai Rp 5 juta,” ujar Etik.

Teaching factory ini, lanjut Etik, produksinya di sekolah dan sistemnya mereka pinjam modal ke sekolah. Mereka produksi setelah produknya terjual uang modalnya dikembalikan, sedangkan untungnya tu ditabung di Bank Mini, dan biasanya diambilnya diakhir semeseter atau akhir tahun. Bank Mini ini dikekola oleh siswa kompetensi keahlian Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP).

“Jadi jika jurusan APHP punya produksi roti, ATU punya peternakan ayam dan puyuh, ATPH punya sayur-sayuran, dan OTKP memenag Bank Mini,” jelasnya.

CHICALO TV SARANA PROMOSI SEKOLAH

Etik Sukmawati, selain harus mengembangkan yang berkaitan dengan Sekolah Pencetak Wirausaha, juga diberi tanggungjawab penuh terhadap maju mundurnya Chicalo TV. Chicalo TV yang merupakan bagian dari bidang digital SMK Negeri 1 Cikalongkulon sebagai salah satui media sarana dalam mempromosikan sekolah. “Chicalo TV juga menjadi sarana pembelajaran broadcast dan video bagi sekolah,” katanya.

Manfaat Chicalo TV bagi siswa, urai Etik, pastinya menjadi media pembelajaran. Bisa untuk live streaming, webinar tentang lapangan pekerjaan, kewirausahaan. Bahan ajar dari para guru juga bisa dishare melalui channel Chicalo TV.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar