Azis Syamnurdin, S.P.T.,M.M.,

Pembelajaran di Masa Pandemi Banyak Dikeluhkan Orang Tua Siswa

Pembelajaran di Masa Pandemi Banyak Dikeluhkan Orang Tua Siswa Bentar Wibisana

Siswa bisa belajar melalui online, yuotube, google, tetapi yang menjadi kekhawatiran orang tua itu bagaimana mengarahkan etikanya dan akhlaknya.

Pembelajaran daring tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi banyak orang tua siswa yang mengeluh. Banyak orang tua siswa yang complain ke sekolah ingin segera anaknya cepat belajar tatap muka. Mereka merasa kewalahan dalam mengarahkan attitude anaknya.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) diyakini telah menurunkan kualitas pendidikan, dan banyak menunjukan dampak yang dialami peserta didik selama menjalani pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Alhasil, kondisi ini pun berpengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran.

Wakil Kepala SMK Negeri 1 Cikalongkulon Bidang Kesiswaan, Azis Syamnurdin, S.P.T.,M.M., menyebutkan, seperti yang terjadi di SMKN 1 Cikalongkulon yang sekolahnya berada di daerah sangat dirasakan adanya penurunan kualitas pendidikan hampir 50 persen selama masa pandemi ini.

Pasalnya, kata Aziz selain program kesiswaan banyak yang tidak jalan sesuai harapan, juga pembelajaran secara daring ini banyak kendala. Tentu sangat berbeda jauh ketika siswa belajar langsung secara tatap muka. Belajar secara tatap muka kita bisa memantau langsung siswa, tetapi kalau di luar kita kurang bisa memantau sejauh mana keberhasilan siswa.

Bahkan, jelas Aziz, dari pembelajaran daring ini tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi banyak orang tua siswa yang mengeluh. “Banyak orang tua siswa yang complain ke sekolah ingin segera anaknya cepat belajar tatap muka. Mereka merasa kewalahan dalam mengarahkan attitude anaknya,” ujarnya.

Selama pembelajaran daring, menurut Aziz, kita susah memantau sikap dan prilaku siswa selama di rumah. Kalau dulu kita setiap hari pantau kedisiplinannya, akifitasnya. Minimal selama belajar di sekolah kita pantau. Kalau di rumah kita tidak bisa pantau. Artinya, kita hanya bisa memoto apakah anak ikut atau tidak pembelajaran online.

Azis menyebutkan, anak itu bisa belajar melalui online, yuotube, google, tetapi yang menjadi kekhawatiran orang tua itu bagaimana mengarahkan etikanya dan akhlaknya. Banyak keluhan dari orang tua, dan selalu menanyakan kapan sekolah tatap muka akan dilaksanakan. Terkadang kita juga bingung menjawabnya. Insya Allah kita akan melaksanakan pembelajaran jika sudah ada izin dari dinas terkait, itu paling jawaban yang bisa saya sampaikan kepada orang tua siswa,” tandasnya.

Terkait program bidang kesiswaan, kata Aziz, dari awal penyusunan program kesiswaan kita menyesuaikan dengan situasi. Seperti untuk kegiatan ekstrakurikuler dibatasi kegiatannya, baik secara jumlah siswa maupun waktunya.

“Kegiatan ekstrakurikuler memang tidak berhenti secara total tidak. Mereka latihan tetap berjalan, kadang di sekolah atau di luar. Kalau berhenti secara total kasihan kepada mereka, takutnya bakatnya akan semakin menurun. Begitu pun kalau ada lomba saya juga selalu mengikutkan, hanya sekarang lombanya begitu terbatas secara virtual,” ujarnya.

Untuk mengawasi siswa, tambah Aziz, bidang kesiswaan bekerjasama dengan wali kelas, sehingga kehadirannya terpantau meski dilaksanakan secara daring. Tetapi kendala memang ada terutama berkaitan dengan fasilitas belajar, seperti handphone (HP), terkadang mereka masih berebutan dengan orang tuanya. Kuota ada tetapi jaringannya jelek, itu juga kendala. “Bagi anak yang memang terkendala kita juga ada home visit, sehingga pembelajaran ini tetap berjalan,” ucapnya.

Menurut Aziz, SMKN 1 Cikalongkulon ini memang terkenal dengan kedisiplinan, dan program minat pengembangan bakat siswa, sehingga dari tahun ke tahun perkembangannya cukup signifikan. Tahun kemarin kita ada kelas program untuk menjembatani anak-anak yang mau masuk TNI/Polri. Itu juga kayanya menjadi salah satu daya tarik. Kita juga bekerjasama dengan berbagai industri, utamanya untuk memberikan bukti kepada orang tua siswa bahwa SMKN 1 Cikalongkulon selalu mengedepankan kedisiplinan, segi kualitas beajar, serta kegiatan-kegiatan lainnya kita tidak asal. Artinya, kita menyesuaikan dengan standar sekolah yang ada di kota, sehingga kepercayaan masyarakat semakin tinggi.

Sebab untuk saat sekarang yang dibutuhkan industri, ungkap Aziz, nomor satu itu masalah etika, pintar nomor dua. Kadang ada perushaaan yang menyebutkan tidak membutuhkan skillnya. Skill itu bisa dicetak dalam 2-3 bulan, tetapi yang dibutuhkan industri adalah karakternya. “Itu pekerjaan rumah (PR) sekolah yang paling berat,” pungkas Aziz.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar