Ida Farida, S.P.T.,M.M.,

Pandemi Covid-19, Butuh Kurikulum Lebih Sederhana dan Luwes

Pandemi Covid-19, Butuh Kurikulum Lebih Sederhana dan Luwes Bentar Wibisana Wakil Kepala SMKN 1 Cikalongkulon, Cianjur Bidang Kurikulum, Ida Farida, S.P.T.,M.M.,

Masa Pandemi Covid-19, sekolah mau tidak mau harus mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi siswa, guru dalam masa daurat kesehatan saat ini.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi sebuah pilihan dalam model pembelajaran saat pandemi Covid-19. Bahkan, memerlukan kurikulum yang lebih sederhana dan luwes. Perumusan kurikulum tersebut harus melibatkan berbagai pihak atau berkolaborasi, dan mengutamakan kebutuhan belajar peserta didik.

Kurikulum tahun 2013 yang menjadi acuan pendidikan di Indonesia selama ini dinilai sudah tidak relevan dalam masa pandemi Covid-19. Pasalnya, setiap sekolah mau tidak mau harus mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi siswa, guru dalam masa daurat kesehatan saat ini.

Seperti halnya diungkapkan Wakil Kepala SMK Negeri 1 Cikalongkulon, Kabupaten Cianjuar, Ida Farida, S.Pt.,M.M., memang betul selama masa pandemi Covid-19 yang entah kapan berakhirnya, sekolah memerlukan kurikulum yang lebih disederhanakan, dan menyesuaikan kebutuhan, serta keadaan siswa, para guru, dan orangtua.

“Semenjak terjadinya pandemic Covid-19, dan sekolah harus melaksanakan pemebalajaran secara daring atau belajar dari rumah (BDR), di SMKN 1 Cikalongkulon sudah pedoman pembelajarannya. Struktur kurikulumnya, yakni setiap standar kompetensi (SK) itu disederhanakan. Semua mata pelajaran disederhanakan jumlah standar kompetensinya,” katanya.

Selama pembelajaran BDR, tambah Ida, SMKN 1 Cikalongkulon menggunakan menggunakan aplikasi Google Classroom, dan grup WhatsApp (WA). Jika ada peserta didik yang tidak bisa mengirim tugas melalui Google Classroom, maka bisa melalui grup WA. Bahkan, termasuk absen siswa pun terkadang menggunakan grup WA, karena tidak semua siswa bisa masuk ke Google Classroom, karena ada beberapa siswa terkendala menggunakan Google Classroom.

“Masing-masing kelas memiliki grup WA sebagai upaya memperlancar pembelajaran daring,” ujarnya.
Begitu juga dengan pembelajaran melalui Google Meet, tandas Ida, bidang kurikulum menjadwalnya, tidak semua mata pelajaran melalui Google Meet, karena berkaitan dengan kuota.

“Jadi mata pelajaran yang sekiranya dianggap penting, maka itu menggunakan Google Meet,” ujarnya.

Terkait dengan pembelajaran tatap muka langsung di sekolah, jelas Ida, memang bidang kurikulum melaksanakannya, tetapi lebih kepada pembelajaran produktif. Tentu yang menjadi kendalanya adalah tidak semua siswa memiliki fasilitas di rumah, sehingga mereka harus belajar secara tatap muka.

“Itu pun kita laksanakan mengikuti aturan yang cukup ketat sesuai dengan protokol Covid-19,” tuturnya.

Metode pembelajaran yang dilaksakan, menurut Ida, itu sistemnya kolaborasi antar mata pelajaran, dan kepalanya ada di guru produktif. Seperti siswa dari kompetensi keahlian Agribisnis Ternak Unggas (ATU) project work-nya membuat telor asin dari telor puyuh. Pembuatan telor asin tersebut materi pokoknya dari dari produktif, maka itu bisa kolaborasi dengan mata pelajaran bahasa Indonesia untuk bikin laporannya.

“Nah, prestasinya mau menggunakan bahasa Inggris juga bisa, kemudian membikin player kebagian sindik, dan yang berkaitan RAB-nya bisa ke KWU,” ujarnya.

Program lain dari bidang kurikulum, tandas Ida, webinar series, pertama memang fokusnya kepada guru. Dari 62 guru yang ada dibagi kelompok menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 8 guru. Mereka ada yang bertugas sebagai moderator, host, dan 2 orang narasumber, selebihnya sebagai pembantu pelaksana webinar. Materinya tentang metode pembelajaran yang sedang update saat ini, dan pihak pengelola menyediakan link zoom. Dalam webinar series ini kita bekerjasama dengan DUDI dan mengundang narasumber dari DUDI.

Webinar series ini tidak hanya bagi guru, lanjut Ida, tetapi siswa juga project work. Dalam webinar series ini semua siswa pengelolanya, mulai dari moderator, host, dan narasumber. Tetapi tetap ada bimbingan dari guru produktif dan guru mata pelajaran lainnya.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar