Revolusi Industri 4.0, Memi: Era yang Diwarnai Kecerdasan Buatan

Revolusi Industri 4.0, Memi: Era yang Diwarnai Kecerdasan Buatan Humas USB YPKP

BANDUNG, GJ.com - Dalam rangka memperingati Hari Ibu, FISIP Universitas Sangga Buana (USB) YPKP bekerjasama dengan STIA YPPT Priatim Tasikmalaya, Jawa Barat dan Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai Bandar Lampung, menggelar Webinar Nasional dengan Tema “Kedudukan Perempuan Pada Era Revoluasi Industri 4.0 Untuk Kemajuan Bangsa”.

Kegiatan ini dilaksanakan, Sabtu 19 Desember 2020 lalu dengan menggunakan aplikasi video conference Zoom dan Live Streaming Youtube Universitas Sangga Buana YPKP.

Webinar Nasional dibuka oleh Wakil Rektor II Universitas Sangga Buana YPKP, Memi Sulaksmi, SE., M.Si., hadir pula pada kesempatan tersebut Ceu Popong sebagai keynote speaker.

Menurut Wakil Rektor II Universitas Sangga Buana YPKP, Memi Sulaksmi, SE., M.Si., revolusi industri 4.0 merupakan era yang diwarnai oleh kecerdasan buatan, era super komputer, rekayasa genetika, inovasi, dan perubahan cepat yang berdampak terhadap ekonomi, industri, pemerintahan, dan politik.

“Gejala ini di antaranya ditandai dengan banyaknya sumber informasi melalui media sosial, seperti youtube, instagram, dan sebagainya. Hadirnya revolusi industri 4.0 seharusnya dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh kaum perempuan, karena memiliki prospek yang menjanjikan bagi posisi perempuan sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” kata Memi.

Menurutnya, revolusi industri 4.0 memiliki prospek yang menjanjikan, namun ada sejumlah tantangan yang dihadapi tenaga kerja profesional perempuan untuk bekerja di dunia industri.

“Penelitian Unesco 2015 menunjukkan rendahnya tingkat partisipasi pekerja perempuan di bidang industri, hal ini disebabkan oleh persepsi lingkungan kerja di industri merupakan domain pekerjaan laki-laki yang melibatkan pekerjaan fisik dan tidak menarik bagi pekerja perempuan.

Selain itu, jelas Memi, masih belum banyak lulusan perempuan bidang itu yang mengejar karir bidang industri. Sebagian besar pekerja perempuan memilih untuk bekerja di bidang administrasi dan manajemen yang tidak terkait langsung dengan bidang keahlian mereka.

“Perempuan harus membuka diri dan mau terus belajar mengikuti perubahan zaman. Kaum perempuan sebagai pendidik generasi penerus harus mampu berbuat banyak, agar menjadi generasi yang mampu bersaing di era global, beretika, dan membanggakan, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara,” tutur Memi.

Peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata, tandas Memi, perempuan memegang peranan strategis, yakni sebagai sosok sentral dalam keluarga (mengatur rumah, membesarkan dan mengasuh anak), berperan sebagai entrepreneur keluarga (bekerja dalam bidang usaha keluarga) dan sebagai agen perubahan diluar rumah tangga sebagai perempuan karier.

Sementara itu, Ceu Popong dalam paparannya mengungkapkan, perempuan memiliki potensi luar biasa yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.

“Mendidik generasi penerus bangsa sebagai pemberi pendidkan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya, sehingga perempuan perlu memiliki wawasan dan pengalaman yang luas di bidang teknologi informasi dan komunikasi agar dalam menjalankan perannya tersebut bisa secara optimal,” katanya.
“Hal ini akan berdampak pada lahirnya generasi penerus bangsa yang cerdas dan memiliki hati nurani,” ungkapnya.

Ceu Popong berpesan, perempuan di era digital tidak cukup berkiprah hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi dituntut juga harus mampu berkiprah dalam usaha keluarga maupun di dunia karier.

“Peran teknologi informasi dan komunikasi dalam menjalankan tugas dalam keluarga dapat memberi wawasan dalam mendidik dan mengatur rumah tangga secara modern, dapat sebagai sarana untuk mencari cara menyelesaikan persoal-persoalan dalam mendidik anak dan mengurus rumah tangga,” pungkasnya.**

Penulis: Febi Kurniawan/Humas USB YPKP Bandung

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar