Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd.,

AKSI Tak Mau Gegabah Laksanakan KBM Tatap Muka

AKSI Tak Mau Gegabah Laksanakan KBM Tatap Muka Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Meski orang tua siswa hampir 75 persen anaknya diizinkan untuk belajar tatap muka di sekolah, namun Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) tidak mau gegabah dalam membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka pada Januari 2021.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd., sekalipun hampir 75 persen orang tua siswa mengizinkan anaknya untuk melaksanakan KBM secara tatap muka, khususnya di Kota Bandung saat ini belum saatnya belajar tatap muka.

Misalnya ada sekolah dinyatakan siap melaksanakan KBM tatap muka, tandasnya, jangan terlalu gegabah. “Saya juga harus mempertimbangkan terhadap keselamatan guru. Apalagi banyak guru yang usianya di atas 50 tahun. Itu sangat beresiko tinggi, sehingga tidak mungkin dilaksanakan KBM tatap muka, kalau belum betul-betul bersih dan dinyatakan aman dari Covid-19,” ujarnya.

Dalam kondisi sekarang, kata Asep seperti dikutip Gorajuara.com dari Majalah “Sekolah JUARA”, Kamis (21/1/2021), walaupun sarana dan prasarana di sekolah sudah siap sesuai protokol kesehatan, tetapi yang kita hadapi itu makhluk kecil yang tidak kelihatan. Bahkan, banyak sekali orang tanpa gejala (OTG), sehingga sulit bagi kita untuk menghindarinya. Bagi orang yang dengan gejala bisa dihindari, kita berjauhan. “Tetapi OTG itu yang kita tidak tahu, dan sangat membahayakan,” ucapnya.

Diakui Asep, makanya untuk membuka KBM tatap muka tentunya para kepala sekolah harus berpikir 1000 kali lagi. Intinya kita harus lebih waspada. AKSI menyarankan tidak dulu dilaksanakan KBM tatap muka untuk di daerah-daerah yang memang masih zona merah. Apalagi kalau kepala daerahnya sudah memutuskan tidak boleh KBM tatap muka, kita harus mengikuti karena kewenanganya ada di kepala daerah kota dan Kabupaten.

Meski kewenangan SMA dan SMK itu ada di provinsi, tandasnya, tidak bisa kita sekehendak hati melaksanakan KBM tatap muka kalau tidak ada izin dari pemerintah kabupaten/kota. Sebab kita menjadi warga di sebuah kabupaten/kota. Kita harus tunduk pada keputusan kepala wilayah tersebut, dan AKSI mendukung itu.

Jika daerahnya sudah dikatakan hijau, menurutnya, berarti aman silahkan laksanakan KBM tatap muka, seperti di Padang, dan Kota Bukit Tinggi. Daerah tersebut sudah bisa melaksanakan KBM tatap muka, karena sudah aman. Tetapi kalau di daerahnya tidak aman jangan dipaksanakan harus KBM tatap muka.

“Jangan coba-coba menentang ini yang penting kita bagaimana menghadapi pandemi Covid-19 ini dengan kebiasaan baru, yakni dengan 3M, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun, jangan pernah kendor. Kata kuncinya adalah kalaupun mau ada kegiatan di sekolah itu dasarnya harus tetap sehat, aman dan menyelamatkan semuanya jangan sampai merugikan,” tutur Asep.

Asep berharap, untuk menekan penyebaran virus corona ini semua pihak harus menahan diri dengan tetap menjaga protokol kesehatan dengan ketat. Coba kalau sepakat semuanya diam di rumah selama 14 hari, tidak usah cari duit. Orang yang punya utang tidak usah mikirin utangnya, tenang aja semua ridhokan diam di rumah selama 14 hari, virus pasti mati, dan masalah Covid-19 bisa selesai.

Ketua Umum AKSI mengajak, di masa pandemi Covid-19 ini kita sama-sama menahan diri atau mengerem semua kegiatan-kegiatan yang akan mengarahkan pada penyebaran virus corona yang lebih besar. Konsepnya adalah ketat, layani, dan laksanakan protokol kesehatan. Jadi ketika ada kegiatan yang bersifat sangat penting harus hadir, harus ngumpul, maka protokol Kesehatan dijaga dengan ketat dan dilaksanakan.

“Aturan 3M bukan hanya ditempel di dinding sebagai poster-poster saja, tapi dilaksanakan, masker selalu dipakai, cuci tangan selalu dan bawa hand sanitizer ke mana-mana, serta jangan lupa disinfektan disemprotin rutin minimal 4 kali sehari, bukan saja di tempat-tempat yang dikunjungi orang banyak,” katanya.

AKSI juga dalam masa pandemi Covid-19 ini, lanjut Asep, tetap berpartisipasi dalam mewujudkan cita-cita bangsa untuk memberi murid atau siswa-siswa yang bermutu, berkarakter Pancasila, menjadi pelajar Pancasila.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar