Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd.,

Melalui "Technopak" Sekolah Diharapkan Mempunyai Nilai Ekonomi

Melalui "Technopak" Sekolah Diharapkan Mempunyai Nilai Ekonomi Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Kehadian “Technopark” diharapkan semua kegiatan dan produk sekolah bisa terhubung ke masyarakat luas, serta bisa dimanfaatkan. Sehingga produk yang dibuat itu betul-betul termanfaatkan. Dengan demikian, akan ada nilai ekonomi yang bisa diraih oleh sekolah.

“Jadi nantinya sekolah yang membuka technopark itu bisa mendapatkan hasil, dan profit dari produk-produk yang dibuatnya. Kita pun bisa berhubungan langsung dengan masyarakat luas sebagai pemakai,” kata Kepala SMK Negeri 14 Kota Bandung seperti dilansir Gorajuara.com dari Majalah “Sekolah JUARA”, Kamis (21/1/2021).

Diakui Asep, sejauh ini kebanyakan produk-produk SMK itu tidak sampai di user, tapi hanya sampai pada proses saja. Setelah proses selesai dinilai, maka hanya menjadi nilai bagi anak-anak. Barangnya kadang-kadang disimpan saja di gudang, bahkan sampai bulukan.

“Ketika saya datang ke SMKN 14 melihat produk-produk yang luar biasa yang dihasilkan siswa, dan karya-karyanya bernilai seni. Itu hanya disimpan saja di meja, kursi dan lemari sampai bulukan,” ucapnya.
Coba saja jika setiap tahun itu dilaksanakan, tambah Asep, ada produk yang dihasilkan oleh anak dalam setiap uji kompetensi, maka aka nada berapa banyak?. Anak-anak membuat produk, dan bisa dibayangkan kalau anak satu angkatanya ada 500 orang. Katakanlah dari satu angkatan itu dibuat 50 kelompok, berarti ada 50 produk yang dihasilkan anak-anak. “Dari 50 produk itu kalau dijual bisa menghasilkan. Ini berjalan bertahun-tahun, dan produknya hanya disimpan saja, tujuan akhirnya hanya sebatas dapat penilaian,” ujarnya.

Diungkapkan Asep, SMK itu banyak membuat produk-produk, tapi tidak nyambung dengan pasar. Hari ini dengan technopark dicoba direvitalisasi. Artinya hubungan dengan dunia luar, dunia kerja, dunia industri, dan masyarakat pemakai lebih ditingkatkan intensitas hubungannya. Pola pemasarannya dikembangkan, termasuk sekarang dengan pola pemasaran menggunakan online, sehingga kita punya marketplace sendiri.

“Di SMKN 14 ada “Technopark SMK 14”, sehingga kalau berkunjung ke marketplace-nya ada produk-produk yang bisa dibeli di SMK 14,” katanya.

Technopark ini sebenarnya sudah berjalan dan sekarang sedang digenjot, lanjut Asep, karena kita masih dalam kondisi Covid-19, maka baru dalam tahapan awal revitalisasi, yakni membenahi internal. Semua infrastruktur kita coba bereskan direvitalisasi, infrastrukturnya yang sudah terlihat kusam dicat untuk dibarukan. Bengkel-bengkel produksi kita coba bersihkan kemudian ditata ulang.

Jadi awal tahun ini memang targetnya adalah pembenahan internal serta penguatan produk-produk, dan melakukan pelatihan-pelatihan untuk gurunya. Sekarang ini belum genjot keluar karena tahun pertama targetnya adalah penguatan internal.

Sehingga nantinya ketika masuk ke ruangan produksi, menurut Asep, seakan-akan kita masuk ke pabrik-pabrik yang benar, bukan hanya bengkel sekolah tempat belajar, tetapi kelihatan seperti industri yang sebenarnya.

“Sambil memperkuat internal, kita juga membuka hubungan-hubungan, mencoba menjalin relasi, baik yang sudah lama maupun yang baru. Hubungan relasi lama dikuatkan kembali, kemudian dengan relasi baru kita kembangkan hubungannya, tidak hanya di Bandung, tetapi sampai ke luar Bandung, bahkan ke luar negeri,” ujarnya.

Asep berharap, dari sisi pendidikannya technopark akan menjadi bagian dari penguat proses pendidikan untuk meningkatkan mutu lulusan. Karena target utamanya adalah bagaimana siswa itu bisa belajar dengan bermutu, dan hasilnya bermutu dengan adanya technopark ini.

“Jadi melalui technopark kita bukan hanya mencari keuntungan finansial, tetapi bagaimana dengan usaha kita untuk meningkatkan mutu pembelajaran,” tuturnya.

Adanya technopark ini menurutnya, sehingga lahirlah proses yang bermutu dan menghasilkan juga lulusan yang bermutu. Sehingga apa yang dilakukan di technopark bisa mendorong lahirnya siswa-siswa yang bermutu sesuai dengan standar industri.

Kemudian dari sisi lainnya, jelas Asep, efek dari produk yang dihasilkan bisa dijual, dan akan meningkatkan kesejahteraan, baik bagi siswa maupun guru, dan warga sekolah lainnya. “Ketika kita berbuat sesuatu yang menguntungkan, maka kita dapat untung lebihnya, meski bukan itu target utamanya. Target utama dari technopart ini adalah pada proses peningkaan mutu pendidikan,” pungkas Asep.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar