Kepala SMK Negeri 14 Kota Bandung, Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd.,

Target Utama "Technopark" Guna Meningkatkan Mutu Pendidikan

Target Utama "Technopark" Guna Meningkatkan Mutu Pendidikan Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memang agak sedikit berbeda dengan sekolah biasa. Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim pernah mengingatkan kepala sekolah SMK, selaku manajer di satuan pendidikan harus seperti Chief Executive Officer (CEO) perusahaan.

Artinya, kata Kepala SMK Negeri 14 Kota Bandung, Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd., kepala SMK harus bisa mengelola sekolahnya dalam mencari, dan mengembangkan peluang kerja sama dengan industri dan dunia kerja.

Menurut Asep, SMK adalah cikal bakal para pengusaha, karena lulusannya diarahkan agar mampu berwirausaha, bukan bekerja di tempat orang lain sebagai pegawai. Lulusan SMK ini harus menjadi wirausaha dan membuka lapangan pekerjaan. Sehingga kepala sekolahnya dituntut untuk berpikiran seperti CEO di perusahaan.

Jadi mengelola SMK, jelas Asep, tidak sama dengan mengelola sekolah lain. “Jika bicara SMA murni pendidikan saja tentang bagaimana pengetahuan itu ditransformasikan, seperti halnya SD dan SMP. Tetapi di SMK, selain ilmu pengetahuan yang ditransformasikan, juga bagaimana skill di bidang industri dan bidang usaha menjadi bagian yang harus ditranformasikan. Sehingga muncul budaya industri di sekolah,” katanya seperti dikutip Gorajuara.com dari Majalah “Sekolah JUARA”, Kamis (21/1/2021),

Kepala SMK dituntut menjadi CEO di sekolahnya, tambah Asep, sehingga nanti kegiatan-kegiatan di sekolah itu berbasis industri, tidak melulu masalah pendidikan atau transformasi ilmu pengetahuan. Tetapi juga bagaimana menciptakan karakter dan budaya industri di sekolah, sehingga siswa, guru dan tata usaha akan tertanam jiwa wirausahanya.

Seperti di SMK Negeri 14, sebut Asep, budaya industri untuk menciptakan jiwa kewirausahaan, maka wadahnya adalah Technopark, yakni integrasi dari semua kompetensi keahlian, baik yang ada di dalam sekolah maupun di luar sekolah, dan dengan industri masyarakat luas. Jadi ketika ada produk, keterampilan, dan kompetensi yang dimiliki oleh sebuah sekolah, maka itu wajib berkaitan atau menyambung dengan dunia Industri, serta masyarakat sekitar, terutama masyarakat dunia hari ini.

Kalau bicara masyarakat, media, dunia maya, tandas Asep, itu sudah global dan secara virtual tidak lagi berbasis area lokal, tetapi sudah global. Ketika anak-anak memiliki sebuah barang produksi, kemudian dijual melalui media sosial secara virtual di marketplace, maka yang membukanya bukan hanya orang Bandung saja, tetapi bisa juga dilihat orang di luar Indonesia, seperti orang Amerika Serikat, Inggris, India dan lainnya.

“Ini konteknya adalah global, sehingga dengan adanya technopark diharapkan semua SMK memiliki jembatan untuk mengaktualisasikan, dan mengekspresikan produk-produk yang ada di sekolah,” ujar Asep.

Jadi dalam technopark, menurut Asep, ada proses kegiatan yang dilakukan untuk memproduksi produk-produk sesuai dengan kompetensi keahlian yang ada di sebuah SMK. Misalnya, di technopark SMKN 14 ada satu pojokan yang menampilkan bagaimana siswa itu membuat batik, mungkin yang ditampilkan hanya gambar kainnya saja.

Technopark dibangun atas dasar bantuan dari pemerintah pusat, sehingga SMK berlomba-lomba menjalankan, dan membangun bangunanya, kemudian membuat programnya. Padahal sebenarnya produk-produk SMK dari dulu juga sudah unggul. Hanya kita memang minim sekali berhubungan langsung dengan dunia nyata, dan faktor marketingnya lemah.

“Nah, dengan technopark ini kegiatan yang berbasis marketing itu ditingkatkan, sehingga hasil produk yang dibuat oleh anak SMK itu betul-betul bisa terjual dan dimanfaatkan. Secara kualitas anak-anaknya dibimbing dengan ilmu pengetahuan oleh gurunya untuk membuat sebuah program yang bermutu. Tetapi ketika itu sudah selesai dibuat, dikemanakan? Ujung-ujung paling hanya sekadar mendapatkan nilai saja,” katanya.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar