Lulusan Psikometri UGM Yogyakarta, Dr. Hj. Tita Lestari, M.Pd., M.Si.,

Asesmen Kompetensi Minimal Mendorong Siswa Berpikir Kritis

Asesmen Kompetensi Minimal Mendorong Siswa Berpikir Kritis Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Pada tahun 2021 ini, Ujian nasional (UN) akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter (SK) untuk semua jenjang pendidikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisai mengenai pengertian AKM dan SK kepada guru. 

Terkait dengan pelaksanaan AKM dan SK ini menurut Lulusan Psikometri  UGM Yogyakarta, Dr. Hj. Tita Lestari, M.Pd.,M.Si., para guru harus mengerti dan memahami apa itu AKM dan SK, serta bagaimana materinya. Begitu juga bagi peserta didik bagaimana melaksanakan AKM dan SK ini.

Sebab dalam AKM ini, jelas Tita,  tidak menilai atau menguji siswa, tetapi menilai profil lembaga. Sehingga yang diuji itu bukan hanya siswa, tetapi juga guru kelas 11, semuanya ikut mengisi semacam test survei karakter,  dan bagaimana daya dukung satuan pendidikan.

“Artinya bagaimana sekolah menguji terhadap kemampuan siswa di dalam literasi dan numerasi, jadi program keahlian apapun yang ada di sini nanti akan diuji melalui asesmen kompetensi minimum,” tutur Tita dikutip Gorajuara.com dari Majalah “Sekolah JUARA”, Kamis  (21/1/2021) saat memberikan pada acara In House Training (IHT) Workshop “Pengembangan Pembelajaran Di Masa New Normal” di SMK Negeri 1 Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

kompetensi berikutnya, katanya,  adalah kompetensi profesional peningkatan wawasan tentang AKM. Pada tahun 2021 peran  AKM itu sebagai pengganti UN, tetapi diganti secara sampel dan pesertanya kelas 11 untuk SMA, SMK dan MA. Sedangkan kelas 8 untuk SMP dan kelas 5 untuk SD, Seluruh Indonesia nanti akan melaksanakan AKM secara bertahap,  dan untuk SMK akan dimulai akhir Maret 2021.

Terkait In House Training (IHT) Sosialisasi Asesmen Kompetensi Minimum, Tita menyatakan, alhamdulillah sangat senang karena untuk menyampaikan materi bisa langsung tatap muka, dan tentunya dengan mempertimbangkan protokol kesehatan.

“Saya lebih senang dengan tatap muka meskipun terbatas, sehingga interaksi antar saya dengan para guru lebih efektif  jika dibandingkan kalau IHT atau workshop dengan cara daring.  Sekalipun hanya 3 jam  esensinya dapat dipahami oleh para guru,” ujarnya.

Untuk persiapan AKM, tambah Tita, harus dimulai dengan pembelajaran, baik blended learning maupun pembelajaran campuran antara daring dengan tatap muka atau luring. “Nah, pembelajaran campuran ini harus dibiasakan. Artinya, teknologi informasi itu harus dikuasai oleh guru, karena  lambat laun guru-guru yang tidak mengikuti perkembangan zaman atau tidak menggunakan teknologi informasi sebagai media untuk pembelajaran akan terpinggirkan,” tandasnya.

Sebab pengetahuan itu tidak harus diterima dari guru,  ungkap Tita, anak-anak bisa mencari sumber belajar dari internet, dari media-media lainnya,  itu lebih cepat dibandingkan dari guru yang mengandalkan buku. Buku ini kan stagnan bisa bertahun-tahun, sedangkan perkembangan teknologi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sedemikian cepat.

Dalam AKM ini menurut Tita,  bagaimana membimbing peserta didik agar daya nalarnya harus lebih baik, tidak ada lagi hafalan,  dan  guru pun tidak hanya menjelaskan, tetapi hanya memfasilitasi, menjadi fasilitator supaya anak berkembang dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif melalui cara-cara baru.

“Jadi adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini benar-benar baru bukan karena pandemi Covid-19, tetapi ini transformasi pembelajaran setelah pandemi. Hikmah dibalik pandemi ini adalah jadi merubah sistem, baik satuan pendidikan sekolahnya, profilnya, kepala sekolahnya, pengawas sekolahnya, gurunya, dan TU juga semua harus berubah,” katanya.

Menurut Tita, mudah-mudahan SMKN 1  Cilengkrang  ada itikad yang kuat untuk berubah ke arah yang lebih maju, sukses dan pola-pola yang lebih milenial dengan  dilandasi dengan karakter yang memang itu tugas utama guru.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar