Kepala SMP Negeri 1 Conggeang, Sumedang, H. Nono, S.Pd.,

"7 Strategi Pembelajaran" Jawaban dalam Menyongsong Era Digitalisasi

"7 Strategi Pembelajaran" Jawaban dalam Menyongsong Era Digitalisasi ist

SUMEDANG, GJ.com - Jika menilik pembelajaran saat ini sangat jauh berbeda dengan pembelajaran pada masa lalu. Teknologi informasi yang semakin pesat di era globalisasi pengarunya sangat besar dan tidak bisa dihindari lagi terhadap dunia pendidikan. Sehingga dunia pendidikan harus menyesuaikan perkembangan teknologi tersebut guna meningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran.

Lalu bagaimana cara SMP Negeri (SMPN) 1 Conggeang, Sumedang dalam menyongsong adaptasi perubahan baru hari ini? Kepala SMP Negeri 1 Conggeang, Sumedang, H. Nono, S.Pd., perubahan merupakan salah satu hal yang tidak bisa dihindarkan pada saat ini. “Hal ini pun berlaku juga di SMP Negeri 1 Conggeang,” kata Nono belum lama ini.

Dalam menghadapi era digitalisasi, jelas Nono, SMPN 1 Conggeang melakukan beberapa persiapan dalam menghadapi perubahan tersebut, antara lain :
a. Menyediakan fasilitas pembelajaran yang mendukung era digitilasasi, berupa sarana perangkat komputer dan koneksi internet.
b. Mengadakan pelatihan berupa IHT (In House Training) untuk guru- guru dengan materi teknik- teknik pembelajaran daring dengan menggunakan berbagai media intenet.

Dalam menghadapi tantangan setelah terjadinya pandemi Covid-19 teknologi komunikasi terus berkembang, sehingga belajar pun beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ), kata Nono, pembelajaran jarak jauh merupakan salah satu alternative pembelajaran yang relevan pada masa pandemi Covid-19. “Di mana PJJ meminimalisir terjadinya penyebaran Covid19 sekaligus hak peserta didik dalam pembelajaran dapat terpenuhi,” ujarnya.

Dalam PJJ SMP Negeri 1 Conggeang mempersiapkan beberapa hal, antara lain:
a. Mengadakan pelatihan berupa IHT (In House Training) untuk guru- guru dengan materi teknik- teknik pembelajaran daring dengan menggunakan berbagai media internet
b. Bekerjasama dengan pihak lain, seperti konten ruang guru
c. Menggunakan 7 strategi pembelajaran yang rekomendasikan dari Dinas Kabupaten, di antaranya:
1. Virtual Meeting
2. Pembelajaran Proyek
3. Media Sosial
4. TV/Radio/Youtube
5. Modul/ LKPD
6. Home Visit
7. Penugasan Berkala

Dalam menghadapi era digitalisasi tersebut, lanjut Nono, perlu menyiapkan SDM dalam hal ini adalah warga sekolah, baik guru- guru, tenaga kependidikan maupun peserta didik, agar memiliki kemampuan menguasai penggunaan media digital untuk menunjang proses pembelajaran.

“Menyiapkan sarana pembelajaran digital yang memadai. Melakukan kerjasama berbagai pihak, baik sekolah, orang tua, dinas pendidikan dan swasta,” ucapnya.


Untuk meyakinkan siswa belajar dengan semestinya saat pembelajaran jarak jauh, ungkap Nono,
dalam proses pembelajaran jarak jauh yang dilakukan tidak hanya mengandalkan satu teknik pembelajaran BDR, tetapi menggunakan 7 strategi pembelajaran, antara lain :
1. Virtual Meeting
2. Pembelajaran Proyek
3. Media Sosial
4. TV/Radio/Youtube
5. Modul/ LKPD
6. Home Visit
7. Penugasan Berkala

Setiap dua minggu PJJ dilaksanakan, tambah Nono, kita evaluasi mengenai proses pembelajaran terhadap siswa. Adapun bahan evaluasinya sebagai berikut, apakah materi pembelajaran dapat tersampaikan pada siswa atau tidak. Jika tidak, apa permasalahannya.

“Sedangkan solusi dalam menghadapi siswa yang merasa kesulitan untuk mendapatkan materi pembelajaran, maka sekolah memfasilitasi konsultasi bagi orang tua atau siswa yang kesulitan dalam pembelajaran jarak jauh,” tandas Nono.

Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik, sebut Nono, pembelajaran tidak selalu berfokus pada materi, tetapi dengan memberikan variasi pembelajaran dengan memberikan tugas proyek, yang mana proyek ini lebih menekankan kepada kemandirian peserta didik. Proses dan hasil dari proyek ini bisa dipresentasikan oleh peserta didik dalam virtual meeting.

Terkait konsep Merdeka Belajar seperti yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadeim Makarim, Nono mengatakan, sekolah dan guru diberikan “kebebasan” dalam mengajar. Hal ini pun menjadikan sekolah atau pun guru bisa memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan sesuai dengan yang ada di lingkungan peserta didik, tanpa terikat oleh materi yang ada di buku paket.

Konsep pembelajaran menyenangkan yang dilakukan SMPN 1 Conggeang, menurutnya, aktif (siswa sebagai sumber belajar dan guru sebagai fasilitator). Inovatif dan Kreatif (Siswa mencari sumber belajar sendiri dan mengembangkan pembelajaran oleh siswa sendiri). Menyenangkan (menjadikan siswa merasa senang dan menikmati pembelajaran), dan kolaboratif (dalam melaksanakan pembelajaran siswa melakukan kerjasama secara berkelompok).

Sejauh mana peran guru dan sekolah untuk bisa menjadi “motor penggerak”, yang mampu menghadirkan pembelajaran inovatif, sehingga metode belajar tidak melulu mencatat dan menghafal? “Supaya guru bisa menjadi motor penggerak yang menghadirkan pembelajaran inovatif, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan, yakni selain memiliki empat kompetensi, guru juga harus memiliki kompetensi yang dibutuhkan saat ini, yakni kemampuan penguasaan digitalisasi,” tutur Nono.

Selain itu, lanjut Nono, guru harus memilah model atau strategi pembelajaran yang baik pada masa PJJ supaya siswa tidak jenuh dengan pembelajaran. Sekolah dengan orang tua memiliki komitmen untuk melaksanakan pengawasan peserta didik dalam PJJ. “Pemberian tugas dari guru yang berupa hasil karya (contoh : pembuatan video pembelajaran oleh siswa) bukan dalam bentuk catatan atau hafalan,” katanya.

Dalam menumbuhkan semangat belajar peserta didik saat PJJ, menurutnya, adalah dengan 7 strategi pembelajaran komplementer, memfasilitasi konsultasi orang tua/siswa yang kesulitan belajar di rumah, dan evaluasi belajar tiap dua pekan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.

Sedangkan untuk menumbuhkan karakter dalam PJJ, urainya, bisa dilaksanakan setiap pembelajaran dimasukkan pendidikan karakter spiritual seperti sebelum dan sesudah pembelajaran dimulai dengan doa dan salam. Berbicara/chat dengan sopan dan santun ketika PJJ.

“Untuk menumbuhkan karakter disiplin dan tanggung jawab peserta didik bisa dilakukan dengan menggunakan penugasan secara berkala yang harus dikumpulkan dengan tepat waktu. Adanya tata tertib siswa maupun guru dalam kegiatan PJJ,” pungkas Nono.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar