Wakil Kepala SMK Negeri 4 Kota Bandung Bidang Kurikulum, Yudi Kartiwa, S.Pd.,S.ST.,M.Pd.,

Pandemi Covid-19, Siswa Diwajibkan Praktik di Rumah Secara Mandiri

Pandemi Covid-19, Siswa Diwajibkan Praktik di Rumah Secara Mandiri Bentar Wibisana

BANDUNG, GJ.com - Semenjak terjadinya pandemi Covid-19, sekolah ditutup untuk memutus mata rantai penularan wabah yang mematikan tersebut. Kegiatan belajar mengajar di sekolah pun dipindahkan ke rumah. Siswa belajar di rumah, guru mengajar bisa dari rumah maupun di sekolah. Namun, metode itu tidak selalu cocok bagi sekolah menengah kejuruan (SMK), karena siswa luput dari praktik, dan hanya dijejali teori.

Menyadari tidak semua mata pelajaran bisa dilaksanakan secara online, dan tidak ingin menyerah di tengah pandemi Covid-19, bidang kurikulum SMK Negeri 4 Kota Bandung tetap menganjurkan kepada siswa untuk melaksanakan praktik di rumahnya, meski dengan cara sederhana.

Menurut Wakil Kepala Bidang SMK Negeri 4 Bidang Kurikulum, Yudi Kartiwa, S.Pd.,S.ST.,M.Pd., selama kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah belum bisa digelar akibat Coronavirus memang siswa SMKN 4 belum melaksanakan pembelajaran praktik.

Namun, kata Yudi, untuk mengantisipasinya kita anak-anak diminta untuk melaksanakan praktiknya di rumah secara mandiri. Penugasan oleh guru disampaikan, kemudian mereka diminta yang praktik disesuaikan dengan peralatan, dan kondisi di tempatnya masing-masing. Misalnya, untuk keahlian listrik kita berikan tugas yang simple.

“Anak-anak disuruh melihat di rumahnya ada berapa titik lampu, ada berapa saklar. Mereka disuruh untuk menggambar denah instalasi listrik di rumahnya masing-masing. Ya, praktiknya seperti itulah sementara ini,” ujar Yudi.

Yudi mengatakan, bagi siswa kelas X yang jurusan instalasi misalnya disarankan punya toolkit dan APO. Jadi ketika ada tugas praktik untuk mengukur berapa teganan listrik di rumahnya mereka langsung bisa mempraktikannya, karena alatnya ada. “Tentu saja praktik itu disesuaikan dan mengacu pada kurikulum sekolah, sehingga untuk praktik mereka tiding ke sekolah, tetapi bisa di rumah masing-masing,” katanya.

Untuk kelas X atas arahan dari kepala sekolah, ungkap Yudi, ke depan khusus untuk kelas X akan diberi pinjaman toolkit, baik bagi jurusan listrik, elektronika, maupun IT untuk menunjang pelaksanaan praktik di rumah. “Kita menunggu perkembangan saja bagaimana ke depannya, apakah semester baru sudah diizinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan menggunakan protokol kesehatan atau tidak,” ujarnya.

Sebab untuk pelajaran praktik kita sangat terkendala, tambah Yudi, praktik yang sederhana mungkin saja bisa dilaksanakan di rumah masing-masing, tetapi kalau praktiknya harus menggunakan alat yang mahal, dan siswa tidak punya seperti osiloskop (alat pengukur) yang harganya bisa mencapai belasan juta rupiah, itu tidak bisa dilakukan di rumah dan tetap harus di sekolah.

Menurut Yudi, mudah-mudahan untuk semester 2 nanti pembelajaran secara tatap muka sudah bisa dilaksanakan. Mendikbud pun sudah mengumukan untuk semester genap semua zona boleh melaksanakan tatap muka, asal ada izin dari pemerintah daerah, Satgas Covid-19 setempa, sekolah memenuhi standar protokol kesehatan dengan segala ketentuan sebagai prasyarat, dan orang tua mengizinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.

Ketentuan belajar tatap muka juga, ungkap yudi, pihak sekolah masih menunggu kepastian, apakah pembelajaran tatap muka itu untuk semua mata pelajaran atau hanya praktik saja. “Jika sudah ada instruksi atau kepastian, baik dari pemerintah Kota Bandung maupun provinsi Jawa Barat untuk pembelajaran tatap muka untuk semua mata pelajaran, maka semua ruangan kita set sesuai dengan protokol kesehatan,” ucapnya.

Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang kedua, jelas Yudi, untuk pembelajaran praktik sudah dibolehkan untuk semua zona. Kita siapkan area praktik dengan kafasitas setengah, dan semua penandaan yang harus dipenuhi sekolah juga sudah dipersiapkan, termasuk masker, tempat cuci tangan, hand sanitizer dan lain sebagainya yang menyangkut prosedur protokol kesehatan. “Ketika kita mendapatkan izin atau instruksi untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka sudah 100 persen siap,” tandas Yudi.

Menurut Yudi, tidak bisa dipungkiri selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini sangat terasa membosankan, baik yang dialami siswa, orang tua dan juga guru. Artinya, pembelajaran tatap muka dengan daring itu tetap berbeda. Belajar secara tatap muka jauh lebih efektif. Sekalipun kita mempunyai Learning Management System, semua aktivitas siswa dipantau saat belajar dari rumah (BDR), maka kalau dibandingkan dengan belajar tatap muka, maka siswa pun akan memilih bertatap muka. “Ya mudah-mudahan semester baru kita sudah bisa melaksanakan belajar tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan,” harap yudi.

Center of Excellence (Pusat Keunggulan)

Sekolah Menengah Kejuaruan Negeri (SMKN) 4 Kota Bandung sebagai salah satu sekolah yang dijadikan center of excellence atau pusat keunggulan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan mendapatkan bantuan sebesar Rp 3 miliar.

Direktorat SMK, menurut Yudi, ingin menciptakan atau membentuk sekolah unggulan yang namanya Center of Excellence. Dari sekian ratus SMK se-Indonesia, salah satunya adalah SMKN 4 Kota Bandung yang ditunjuk.
Bantuan sebesar Rp 3 miliar itu, jelas Yudi, untuk mengembangkan dan membangun ruangan praktek, kelengkapan fasilitas praktek sesuai dengan standar industri, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta kurikulum.

Ditunjuknya SMKN 4 sebagai center of excellence, tambah Yudi, ada beberapa tuntutan dari Direktorat SMK yang kita penuhi sebagai syarat sekolah pusat keunggulan, di antaranya kurikulumnya harus tersinkronisasi dengan industri. Harus mengembangkan unit produksi dan teaching factory. Selanjutnya ada guru yang magang di industri, kemudian ada MoU dengan industri, rekrutmen. “Pokoknya ada sekitar 12 point yang harus kita penuhi,” tutur Yudi.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar