Rusmana,

SMAN 1 Pangalengan Sekolah Kewirausahaan Nasional

SMAN 1 Pangalengan Sekolah Kewirausahaan Nasional Bentar Wibisana Rusmana, M.Pd.,

PANGALENGAN, GJ.com - SMA Negeri 1 Pangalengan sejak tahun 2017 sudah menjadi sekolah rujukan untuk pengembangan kewirausahaan, sehingga sekolah yang beralamat di Jl. Kb. Kopi No. 145, Margamulya, Kec.Pangalengan, Kabupaten Bandung ini merupakan sekolah kewirausahaan nasional. Bahkan, selain ada program kewirausahaan, di SMAN 1 Pangalengan ini juga terdapat kelas kompetensi.

“Sekolah kewirausahaan ini memberikan stimulus modal kepada anak untuk membuat Kelompok Usaha Siswa (KUS). Jadi mereka membuat pengembangan usaha berdasarkan implementasi mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan (PKWU). Dalam PKWU itu ada kerajinan, pelongalahan makanan, dan rekayasa,” jelas Wakil Kepala SMA Negeri 1 Bidang Kurikulum, Rusmana, M.Pd.

PKWU yang berkembang di SMAN 1 Pangalengan, menurut Rusmana, pengolahan makanan dengan budidaya jamur. “Alhamdulillah dua bidang tersebut sebelum adanya pandemi Covid- 19 sudah berjalan. Bahkan, kita ini menjadi sekolah rujukan untuk tingkat nasional, dan dijadikan percontohan untuk mengembangkan kewirausahaan oleh direktorat,” katanya.

KUS itu, tambah Rusmana, dikasih modal sebesar Rp 1 juta sebagai modal usaha, kemudian modal tersebut digulirkan kepada KUS berikutnya. Namun sejak adanya pandemi Covid-19, maka untuk sementara kegiatan kewirausahaan secara otomatis berhenti sementara.

Selama pandemi Covid-19, kata Rusmana, kita kembangkan program kelas kompetensi. Kita membuat semacam kursus singkat untuk anak-anak yang memang dari segi finansial tidak mungkin untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kita sudah membuka dua kelas kompetensi, yakni design grafis dan barista.

“Kebetulan Pangalengan potensial dengan kopi, maka kita buka kursus barista,” kata Rusmana seraya menambahkan, barista ini didukung oleh salah satu produk kopi, KPBS, perkebunan Malabar, dan penerbit.

Dikatakannya, dalam mata pelajaran PKWU itu di dalam kelas anak-anak mendapatkan teori bagaimana cara berwirausaha, sedangkan diluar kelas mereka diberikan langsung oleh praktiknya. Para praktisi ini membantu dari mulai perencanaan sampai kepada pemasaran, dan mereka menyediakan space untuk produk-produk anak anak. Pada akhirnya kita mengadakan show case atau Bazzar untuk produk dari KUS.

“Ada sekitar 40 KUS kita pamerkan, dan sekaligus mengundang orang tua untuk menyaksikan dan memberikan apresiasi terhadap hasil karya anak-anak,” katanya.

Learning Management System

Dalam upaya mempermudah proses kegiatan belajar mengajar (KBM), SMAN 1 Pangalengan menggunakan metode Learning Management System (LMS). Sistem tersebut dibuat langsung oleh tim kurikulum.

Disebutkan Rusmana, awalnya kita menggunakan aplikasi “Sagu Sabri”, yakni satu guru satu blog pribadi dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). Aplikasi tersebut digunakan sebelum ada LMS. “Melalui LMS ini guru-guru bisa diajari membuat animasi, jadi ada kreativitas guru dalam memberikan pelajarannya,” ucapnya.

Aplikasi moving class dan moven class ini, jelasnya, terhunung langsung dengan blog guru masing-masing. “Keuntunganya saya sebagai yang diamanahi bagian kurikulum bisa memantau aktivitas belajar mengajar kapan pun,” ujarnya.

Selain ada moving class, tandasnya, kita juga sediakan perpustakaan digitalnya, dan ada filmnya, sehingga anak-anak bisa nonton bareng kalau anak- anak jenuh belajar. Tetapi film-film tersebut ada nilai edukasinya, serta ada lagu-lagu untuk mata pelajaran bahasa Inggris.

Pembelajaran melalui LMS ini, menurut Rusmana, alhamdulillah respon anak-anak cukup bagus. Terlihat dari kunjungan dan grafik perharinya sudah banyak. “Di SMAN 1 Pangalengan ini kita memberikan layanan 24 jam, kapan anak mau belajar tinggal membuka aplikasi saja, tidak harus pada jam-jam tertentu,” katanya.

Menurutnya, dengan kondisi seperti sekarang ini menjadi tantangan bagi bidang kurikulum untuk terus mengembangkan terobosan-terobosan baru dalam proses KBM. Kita juga harus memberikan pelatihan terhadap guru- guru yang masih gagap teknologi.

“Sementara tuntutan kewajiban kita mengajar tetap harus dilaksanakan, itu kan menjadi suatu tantangan. Bagi kami tentunya bagaimana bisa memberikan pelayanan supaya anak tetap belajar, orang tua terpuaskan,” ungkapnya.

Rusmana menegaskan, bagaimana pelayanan kita tetap dalam koridor visi misi sekolah tercapai, dan dengan kondisi seperti ini cita-cita atau target kurikulum tetap tercapai, serta kesehatan tetap terjaga.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar