Kepala SMA Negeri 1 Pangalengan, Kabupaten Bandung, Surahman, S.Pd.,M.M.Pd.,

Wujudkan Sekolah Berkarakter "DIGEMARI"

Wujudkan Sekolah Berkarakter "DIGEMARI" Bentar Wibisana Kepala SMA Negeri 1 Pangalengan, Kabupaten Bandung, Surahman, S.Pd.,M.M.Pd.,

PANGALENGAN, GJ.com - “DIGEMARI”, itulah motto yang diusung Surahman, S.Pd.,M.M.Pd., saat dirinya  memimpin Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pangalengan, Kabupaten Bandung. Hal tersebut sejalan dengan visi misi sekolah, yakni terwujudnya warga sekolah yang memiliki karakter disiplin, ikhlas, gesit, empati, murah hati, amanah, responsif, dan istiqomah.

Menurut Kepala SMA Negeri 1 Pangalengan, Kabupaten Bandung, Surahman, S.Pd.,M.M.Pd., dengan perubahan motto tersebut diharapkan SMAN 1 Pangalengan yang baru dikelolanya sekitar dua bulan ini semua warga sekolah memiliki karakter yang digemari. “Jika sudah digemari, maka sekolah ini pastinya akan disenangi orang,” katanya.


Bagi kami, kata “DIGEMARI” ini bukan hanya sekadar slogan semata, tetapi mempunyai arti  singkatan yang bermakna, yakni disiplin, ikhlas, gesit, empati, murah hati, amanah, responsive, dan istiqomah.

Penjabarannya, kata Surahman, disiplin diharapkan seluruh warga sekolah harus memiliki kedisiplinan yang cukup tinggi. Kedisiplinan itu tidak hanya diterapkan ketika kondisi kita sedang dalam masa pandemi Covid-19 saja, tetapi dalam kondisi apapun kita tetap harus berdisiplin. Contoh kecil misalnya, kita harus datang ke sekolah tepat waktu, dan menyelesaikan tugas tepat waktu.


Ikhlas, jelas Surahman, semua unsur mulai dari guru sampai kepada pegawai lainnya ketika melaksanakan pekerjaan atau tugasnya harus dilandasi dengan ikhlas, sehingga memiliki nilai kebaikan di dunia, mapun di akhirat kelak, itulah karakter yang akan kita bangun.


Sedangkan gesit, ungkap Surahman, pada masa atau era sekarang menuntut semua orang harus bertindak gesit. Jadi kita semua harus siap dengan segala tantangan yang ada, termasuk dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada masa pandemi Covid-19 ini.


Artinya, menurut Surahman, ketika kita harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara PJJ, itu jangan dijadikan suatu masalah baru, tetapi kita harus lebih gesit lagi dalam menyikapinya, sehingga KBM bisa berjalan sesuai harapan.


“Jadi semua harus siap, tidak berleha-leha, karena semua sekolah juga melakukan hal yang sama. Justru yang lebih penting adalah bagaimana kita mencari solusinya, termasuk dalam PJJ di Pangalengan ini bermasalah dalam geografis. Nah, semua kendala itu jangan dibuat alasan untuk tidak berbuat sesuatu yang bisa bernilai positif,” tuturnya.


Selanjutnya, tandas Surahman, kenapa kita harus mempunyai karakter empati? Kalau guru dan siswa SMAN 1 Pangalengan ini tidak memiliki rasa empati bisa menghambat pada keberlangsungan PJJ ini. Sebab antara sekolah dan rumah tinggal siswa itu jaraknya jauh-jauh, ada yang tidak punya sarana belajar, seperti computer, lsptop dan handhpone (HP), bahkan ada yang tidak punya kuota juga.


Kenyataan yang dialami oleh siswa seperti ini, sebut Surahman, kalau di kota sepertinya tidak mungkin. Di era seperti  sekarang tidak punya HP, itukan sangat ironis. Tetapi di Pangalengan, khususnya siswa SMAN 1 Pangalengan kenyataannya masih ada yang seperti itu, belaum lagi daerah tinggalnya itu blankspot. Untuk menyikapi hal seperti itu, maka dibutuhkan empati guru, siswa dan kita semuanya.

 
Murah hati, artinya kita harus mau berbagi dengan sesama, tidak boleh pelit dan harus menumbuhkan rasa kasih sayang. Sedangkan responsif ketika di antara kita tersandung suatu masalah harus respek, saling membantu.


“Amanah kita sebagai guru,  tata usaha (TU), dan  pegawai lainya  ketika diberikan kepercayaan harus amanah. Terakhir istiqomah, seperti ketika saya di tempatkan di SMAN 1 Pangalengan ini jangan hanya awal saja yang bersemangat, kemudian akhirnya meuleumpeum. Tetapi harus tetap istiqomah, dan tetap bersemangat,” ujarnya.


Mudah-mudahan dengan motto “DIGEMARI” ini, harap Surahman, SMAN 1 Pangalengan ada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Dalam melakukan perubahan itu memang perlu kerja keras dan perjuangan, tidak semudah membalikan telapak tangan. “Saya yakin semua keberhasilan pada hakikatnya bukan karena kehebatan seseorang, tetapi terletak pada faktor pertolongan Allah SWT,” tuturnya.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar