Wakil Kepala SMK Negeri 2 Baleendah Bidang Kesiswaan, Tisna Saepudin, S.Pd.,M.M.,

BDR Kurang Efektif Bagi Sekolah Vokasi yang Menitikberatkan Praktik

BDR Kurang Efektif Bagi Sekolah Vokasi yang Menitikberatkan Praktik ist

BALEENDAH, GJ.com - Tak bisa dipungkiri pelaksanaan sistem pembelajaran jarak jauh(PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) selama pandemi dinilai masih belum berjalan secara optimal. Ada beberapa hal yang muncul menjadi kendala, terutama mengenai sarana dan prasarana belajar peserta didik.

Permasalahan yang kerap menjadi kendala selama belajar dari rumah di era pandemi Covid-19 ini, tidak hanya dirasakan oleh siswa saja, tetapi guru pun mengalami hal yang sama. Sehingga hal ini perlu perhatian dari berbagai pihak agar dapat diatasi. Peserta didik bisa mendapatkan pendidikan secara utuh.

Hal itu diakui Wakil Kepala SMK Negeri 2 Baleendah Bidang Kesiswaan, Tisna Saepudin, S.Pd.,M.M., cara Belajar Dari Rumah (BDR) yang diterapkan SMK Negeri 2 Baleendah selama Pendemi Covid-19 memang kurang efektif.

“Apa yang saya alami dan rasakan sangat kurang efektif, mengingat SMKN 2 Baleendah adalah sekolah vokasi yang lebih menitikberatkan kepada keterampilan, jadi siswa harus banyak latihan atau praktik langsung terhadap materi yang dipelajarinya,” kata Tisna.

Untuk menyikapi hal tersebut, menurut Tisna, kita pun harus mendukung apa yang menjadi ketetapan dan kebijakan pemerintah, instansi terkait, Gugus Tugas Penanganan Covid-19, dan mensosialisasikannya kepada tim pembina kesiswaan sekolah, para siswa, dan orang tua. Memberikan rambu-rambu atau batasan kepada siswa mengenai protokoler kesehatan yang diterapkan di sekolah.

“Menonatifkan sementara semua bentuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sampai batas watku yang belum bisa ditentukan. Apapun kepentigan siswa yang mengharuskan hadir ke sekolah, tetap mengikuti protokoler kesehatan dan aturan tata tertib sekolah,” ujarnya.

Dalam upaya meyakinkan siswa melaksanakan BDR,jelas Tisna, kita meminta rehadiran siswa dalam setiap PBM daring, termasuk merekap siswa yang tidak dapat mengakses pelajaran karena masalah alat atau fasilitas yang dimiliki siswa.

Untuk mengefektifkan siswa BDR, tambah ia, guru kunjung khusus melakukan survey dan verifikasi bagi siswa yang terkendala masalah jaringan, kuota, atau handphone (HP). Untuk meyakinkan siswa benar-benar belajar atau tidak, maka kita meminta bantuan Bapak Ibu guru dalam mengajar untuk membuat bahan ajar atau materi ajar yang lebih bervariatif, sehingga tidak ada kejenuhan termasuk tetap memberikan asesmen dalam setiap pertemuan. Siswa tetap penuh rasa tanggung jawab untuk serius dalam belajar meskipun secara daring.

Dalam menatasi kendala yang dialami siswa, tegas Tisna, sekolah memberikan Bantuan Kuota kepada para siswa. Guru membuat modul pembelajaran yang bisa dipelajari secara mandiri oleh siswa. “Bekerja sama dengan berbagai fihak (Alumni) memberikan bantuan fasilitas handphone,” katanya.

8. Apa yang menjadi kesulitan bidang kesiswaan dalam kegiatan belajar mengajar secara daring atau sistem online?

10. Jika menemukan kendala, sehingga siswa tidak bisa belajar dari rumah secara maksimal, ungkap Tisna, kita mengugaskan Bapak / Ibu Wali kelas untuk melakukan supervise kepada siswa yang menemukan kendala. Memfasiltasi siswa dengan membuat bahan ajar (modul) yang bisa dipelajari secara luring, dan bekerja sama dengan berbagai pihak (alumni) memberikan bantuan fasilitas handphone.

Disebutkan Tisna, ada plus-minus dalam BDR ini, yakni sisi posotifnya, semua data secara otomatis tersimpan atau terekem ke dalam system, sehingga adminsitrasi lebih lengkap dan mudah dicari, belajar bisa dimana saja selama fasilitas mendukung.

Sisi Negatifnya, lanjutnya, berkaitan dengan daya dukung yang tidak merata, komunikasi antara siswa dan guru terbatas, sehingga banyak siswa yang kurang memahami dengan baik, guru hanya sebatas waktu mengajar, sehingga perubahan perilaku sesudah belajar kurang diketahui.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar